Archives for category: Uncategorized
 
 
 
 
 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

“Artinya : Sesungguhnya, Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”[Yusuf : 100].”Artinya : Dan Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” [Al-An’am :18]Al-Ilmu merupakan salah satu sifat Dzatiyah yang tidak akan pernah lepas dariAllah Ta’ala. Ilmu Allah meliputi segala sesuatu, secara global maupun terperinci.Kebijaksanaan Allah berlaku di dunia maupun di akhirat. Apabila Allahmenyempurnakan sesuatu, maka sesuatu itu tidak mengandung kerusakan.Allah telah menciptakan manusia dan Dia Maha Suci, Maha Bijaksana, lagi MahaMengetahui. [2][6]. Sifat Ar-Rizq (Memberi Rezki) [7] . Al-Quwwah (Kuat) [8]. Al-Matanah (Kokoh)
٥٨ُنيِَمْا ِُْا وُذ ُقارا َُه َا ِإ .
“Artinya : Sesungguhnya Allah Maha Pemberi Rezki, Yang MempunyaiKekuatan, dan Yang Sangat Kokoh.” [Adz-Dariat : 58]Ar-Razzaq artinya Yang banyak memberi rezki secara luas (sebagaimanaditunjukkan oleh shighah mubalaghah bentuk kata yang menyangatkan. Apapunrezki yang ada di alam semesta ini berasal dari Allah Ta’ala. Rezki itu ada dua :Pertama : Rezki yang manfaatnya berlanjut sejak di dunia hingga di akhirat, yaiturezki hati. Contohnya : Ilmu, iman, dan rezki halal.Yang kedua : Rezki yang secara umum diberikan kepada seluruh manusia, yangshalih maupun yang jahat, termasuk binatang dan lain-lain.Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki sifat Al-Quwwah (Kekuatan), Al-Qawiyartinya adalah Syadidul Quwwah (Sangat Kuat). Maka, Al-Qawiy merupakansalah satu nama-Nya, yang berarti Yang Memiliki Sifat Kuat. Adapun Al-Matinberarti Yang Memiliki Puncak Kekuatan dan Kekuasaan.[3].[9]. As-Sam’u (Mendengar) [10]. Al-Bashar (Melihat)
 
١١.ُريِصَا ُعيِما َُهَو ٌءْَ ِِْثِمَ َسْيَ 
“Artinya : Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya dan Dia MahaMendengar lagi Maha Melihat.” [Asy-Sura: 11]Di antara sifat-sifat Dzatiyah Allah adalah As-Sam’u dan Al-Bashar. Jadi, Allahmemiliki sifat mendengar dan melihat, sesuai dengan keagungan-Nya, tidaksebagaimana mendengar dan melihatnya makhluk-Nya. Bahkan, pendengaran-Nya meliputi segala hal yang terdengar, dan Dia Melihat dan menyaksikan
 
 

segala sesuatu, sekalipun sesuatu tersebut tersembunyi secara lahir maupunbatin. [4]Seorang penyair berkata :Duhai Dzat Yang Melihat nyamuk, ketika mengembangkan sayapnyaDi kegelapan malam yang pekat dan kelamDan Melihat urat syaraf di lehernyaJuga otak yang didalam tulang-tulang nan amat mungil ituBerikanlah kepadaku, ampunan yang menghapuskanDosa-dosa yang kulakukan, sejak kali pertama Foote Note.[1]. Shahih Muslimâ€‌IV/2084. Lihat juga Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyah‌, Al-Haras, hal. 42.[2]. Lihat Al-Ajwibah Al-Ushuliyah‌, hal.42[3]. Ar-Raudhah An-Nadiyah‌, hal. 74[4]. Lihat Ar-Raudhah An-Nadiyah‌, hal. 74 dan 112
 
AYAT-AYAT DAN HADITS-HADITS TENTANG SIFAT-SIFAT ALLAH
 Sifat : Al-Iradah, Al-Masyi’ah, Al-Mahabbah, Al-Mawaddah, Ar-Rahmah, Al-Maghfirah[11]. Sifat Al-Iradah Dan [12]. Sifat Al-Masyi’ah (Menghendaki)
 ٢٥٣.ُدِرُ َ ُَْفَ ا نِكـََو ْاُََْا َ ا ءَ ْََو 
“Artinya : Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan.Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” [Al-Baqarah : 253]
 ١٢٥َمََ ًجَرَ ًّيَض ُَْدَ ْَْَ ُِُ َأ ْِرُ نََو ِَْِِ ُَْدَ ْَرْشَ ُَِدْَ َأ ا ِِرُ نَمَ . َءَما ِ ُدصَ 
“Artinya : Siapa yang Allah berkehendak untuk memberikan petunjuk kepadanya,niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk) Islam. Dan siapa yang Allahberkehendak untuk menyesatkannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesaklagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit.”[Al-An’am : 125]Iradah (kehendak) Allah terbagi menjadi dua :
 
 

[1]. Al-Iradah Al-KauniyahAl-Iradah Al-Kauniyah ini bersinonim dengan Al-Masyi’ah. Iradah Kauniyah atauMasyi’ah ini berkenaan dengan apa saja yang hendak dilakukan dan diadakanoleh Allah Subhanallahu wa ta’ala Apabila Allah Subhanallahu wa ta’alamenghendaki terjadinya sesuatu, maka sesuatu itu terjadi begitu. Diamenghendakinya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala :
 ٨٢ُُكَيَ ْنُ ُَ َُَ ْَأ ًْيَ َاََأ اَذِإ ُُرْَأ َمِإ .
“Artinya : Sesungguhnya perintah-Nya, apabila Dia menghendaki sesuatu,hanyalah berkata kepadanya “Kun” (Jadilah), maka jadilah ia.” [Yasin : 82]Jadi, apapun yang dikehendaki oleh Allah, niscaya terjadi, sedangkan apapunyang dikehendaki Allah untuk tidak terjadi, niscaya tidak terjadi.[2]. Al-Iradah Asy-Syar’iyahIradah ini berkaitan dengan apa saja yang diperintahkan oleh Allah kepadahamba-hamba-Nya, berupa hal-hal yang dicintai dan diridhai-Nya. Iradah inidisebutkan, misalnya, dalam firman Allah Ta’ala :
 ١٨٥َرْُْا ُُكِب ُدِرُ ََو َرْُيْا ُُكِب ا ُدِرُ .
“Artinya : Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendakikesukaran bagimu.” [Al-Baqarah : 185]Perbedaan Antara Kedua Iradah Ini.Al-Iradah Al-Kauniyah Al-Qadariyah bersifat umum, meliputi seluruh peristiwadan apapun yang terjadi di jagad raya ini, entah berupa kebaikan maupunkeburukan, kekafiran maupun keimanan, dan ketaatan maupun kemaksiatan.Adapun Al-Iradah Ad-Diniyah Asy-Syar’iyah bersifat khusus berkaitan denganapa saja yang dicintai dan diridhai oleh Allah, yang dijelaskan di dalam Al-Kitabdan As-sunah.Kedua Iradah di atas berpadu pada diri seorang hamba yang taat. Adapun orangyang bermaksiat dan kafir hanya mengikuti Al-Iradah Al-Kauniyah Al-Qadariyah.Artinya, ketaatan seseorang itu sesuai dengan iradah (kehendak) Allah, baik Al-Iradah Ad-Diniyah Asy-Syar’iyah maupun Al-Iradah Al-Kauniyah Al-Qadariyah.Adapun orang kafir, perbuatannya itu sesuai dengan iradah kauniyah qadariyah,tetapi tidak sesuai dengan iradah diniyah syar’iyah. [1][13]. Sifat Al-Mahabbah (Cinta) [14]. Al-Mawaddah (Cinta yang Murni)
 ١٩٥َنيِِْحُمْا ِحُ ا ِإ ْاَُِْَأَو .
 
 

“Artinya : Dan berbuat baiklah, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yangberbuat baik.” [Al-Baqarah : 195]Cinta Allah itu merupakan sifat yang sesuai dengan keagungan-Nya,sebagaimana telah dijelaskan di muka. la merupakan sifat Fi’liyah, yang munculdisebabkan dilaksanakannya perintah Allah, yaitu ibadah kepada Allah denganbaik dan perbuatan baik kepada hamba-hamba-Nya. Demikian halnya sifatMawaddah. Karena Allah berfirman :
 ١٤ُوُَْا ُُفَغْا َُهَو .
“Artinya : Dan Dia Maha Pengampun dan Maha Pencinta dengan kecintaan yangmurni.” [Al-Buruj : 14]Al-Wudd artinya kecintaan yang bersih dan murni.[15]. Sifat Ar-Rahmah (Kasih Sayang), [16]. Al-Maghfirah (Mengampuni)
 ٧.ًمْِَو ًةَمْ ٍءْَ ُ َْِَو َبَ 
“Artinya : Wahai Rabb kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi sesutu.” [Ghafir :7]
 ١٠٧ُيِرا ُُفَغْا َُهَو .
“Artinya : Dan Dia Yang memberikan ampunan dan sayang.” [Yunus : 107]Pada ayat pertama, Allah menetapkan sifat rahmah bagi diri-Nya, sedangkanpada ayat kedua, Allah Subhanallahu wa ta’ala menetapkan sifat Maghfirah. Kitamenetapkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi diri-Nya, dengan artianyang layak bagi-NyaFoote Note.[1]. “Al-Aqidah Ath-Thawiyah‌, hal.116, Syarh Al-Wasithiyah‌Al-Haras, hal. 52 danAl-Ushuliyah‌, hal.48
 
AYAT-AYAT DAN HADITS-HADITS TENTANG SIFAT-SIFAT ALLAH
 Sifat : Ar-Ridha, Al-Ghadhab. As-Sukht, Al-La’n, Al-Karahiyah, Al-Wajhu, Al-Yadain, Al-Ainain
 
 

[17]. Sifat Ar-Ridha [18]. Al-Ghadhab (Marah) [19]. As-Sukht (Murka)[20]. Al-La’an (Melaknat) [2l]. Al-Karahiyah (Benci) [22]. Al-Asaf (Marah) [23]. Al-Maqt (Murka)
 ٨ُْَ اُضََو ْُْَ ُا َِض .
“Artinya : Allah meridhai mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.” [Al-Bayyinah : 8]
 ٩٣ُََََو ِْيََ ا َِََو َيِ ًادِَخ ُََج ُُؤآَزََ ًادّمََ ًِْُ ْُْَ نََو .
“Artinya : Dan siapa membunuh seorang mukmin secara sengaja, makabalasannya adalah Jahannam, ia kekal di dalamnya, sedangkan Allah marah danmelaknatnya.” [An-Nisa’ : 93]
 ٢٨ُَاَْضِ اُهِرََو َا ََْَأ َ اُَتا ُُَِب َِَذ .
“Artinya : Itu dikarenakan mereka mengikuti apa yang menjadikan Allah murkadan mereka membenci keridhaan-Nya.” [Muhammad : 28]
 ٥٥َنيِَمْجَأ ْُهَْَرْََ ْُْِ َْمََا َُفَآ مََ .
“Artinya : Maka ketika mereka telah menyebabkan Kami marah, maka Kamimenghukum mereka.” [Az-Zukhruf : 55]
 ٣َُَْفَت َ َ اُُَت َأ ِا َدِ ًْَ َرُَ .
“Artinya : Amat besarlah kemurkaan di sisi Allah, jika kamu mengatakan apa-apayang tiada kamu kerjakan.” [Ash-Shaf : 3]
 ٤٦.ْُََِا ا َِرَ نِكـََو 
“Artinya : Tetapi Allah membenci keberangkatan mereka.” [At-Taubah : 46]Dalam ayat-ayat ini, Allah menetapkan bagi diri-Nya sifat Al-Ghadhab, marah,As-Sukht, murka, Ar- Ridha, Al-La’an (melaknat), Al-Karahiyah (benci), Al- Asaf (marah), serta Al-Maqt (murka). Ini semua merupakan sifat-sifat Af’al (perbuatan)yang dilakukan oleh Allah ‘Azza wa Jalla, bila Dia menghendaki. Selainmenetapkan sifat-sifat Dzatiyah bagi Allah, Ahlus Sunnah wal Jama’ah jugamenetapkan sifat-sifat Fi’liyah-Nya yang bersifat ikhtiyari (pilihan), dengan maknayang layak dengan keagungan-Nya.[24]. Al-Maji’ (Tiba) [25]. Al-Ityan (Datang)
 
 

 ٢١٠ُرْَا َِُَو ُةَكِئلَمْاَو ِَمَغْا َنّ ٍَُ ِ ا ُُَيِتْَ َأ ِإ َوُرُظَ ْَه .
“Artinya : Tiada yang mereka nanti-nantikan melainkan kedatangan Allah danmalaikat (pada hari kiamat) dalam naungan awan, dan diputuskanlahperkaranya.” [Al-Baqarah : 210]
 ٢١.َ َ ُْَْا ِُ اَذِإ َ .٢٢فَ فَ ُََمْاَو َبَ ءَجَو .
“Artinya : Jangan (berbuat demikian). Apabila bumi digoncangkan berturut-turut.Dan tibalah Rabbmu sedangkan malaikat berbaris-baris.” [Al-Fajr : 21-22]Ayat-ayat yang disebutkan oleh penulis ini, juga ayat-ayat yang lain, memuatpenetapan sifat Al-Maji’ (tiba’) dan Al-ltyan (datang), demikian pula sifat An-Nuzul(turun), sesuai dengan makna yang layak dengan keagungan Allah Ta’ala.Perbuatan-perbuatan ikhtiari ini dilakukan berkaitan dengan Al-Masyi’ah(kehendak) dan Al-Qudrah (kemampuan) Allah.[26]. Sifat Al-Wajhu (Wajah), [27]. Al-Yadain (Dua Tangan), [28]. Al-‘Ainain (DuaMata)
 ٢٧ِاَرْِْاَو ِََْا وُذ َّبَ ُْجَو ىَْََو .
“Artinya : Dan tetap kekal Wajah Rabbmu yang mempunyai kebesaran dankemuliaan.” [Ar-Rahman : 27]
 ٤٨َِُيْَِب َِَ َّبَ ِْكُحِ ْرِْاَو .
“Artinya : Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Rabbmu, sesungguhnyakamu berada dalam penglihatan Mata Kami” [Ath-Thur : 48]
 
٧٥َدَيِب ُْََخ َمِ َدُْَت َأ ََََ َ .
“Artinya : Apakah yang menghalangi kamu sujud kepada (Adam) yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku.” [Shad : 75]Dalam ayat-ayat ini terkandung penetapan wajah, dua tangan, dan dua matabagi Allah Ta’ala, dengan sifat yang sesuai dengan kebesaran-Nya. Adapunhadits yang menunjukkan sifat dua mata ini, adalah sabda Nabi Sallallahu ‘alaihiwassalam :Artinya : Sesungguhnya Rabbmu tidak buta sebelah matanya.” [1]Foote Note.[1]. Fathul Bari‌XII/91 dan Muslim IV/2248
 
 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

“Artinya : Sesungguhnya, Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”[Yusuf : 100].”Artinya : Dan Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” [Al-An’am :18]Al-Ilmu merupakan salah satu sifat Dzatiyah yang tidak akan pernah lepas dariAllah Ta’ala. Ilmu Allah meliputi segala sesuatu, secara global maupun terperinci.Kebijaksanaan Allah berlaku di dunia maupun di akhirat. Apabila Allahmenyempurnakan sesuatu, maka sesuatu itu tidak mengandung kerusakan.Allah telah menciptakan manusia dan Dia Maha Suci, Maha Bijaksana, lagi MahaMengetahui. [2][6]. Sifat Ar-Rizq (Memberi Rezki) [7] . Al-Quwwah (Kuat) [8]. Al-Matanah (Kokoh)
٥٨ُنيِَمْا ِُْا وُذ ُقارا َُه َا ِإ .
“Artinya : Sesungguhnya Allah Maha Pemberi Rezki, Yang MempunyaiKekuatan, dan Yang Sangat Kokoh.” [Adz-Dariat : 58]Ar-Razzaq artinya Yang banyak memberi rezki secara luas (sebagaimanaditunjukkan oleh shighah mubalaghah bentuk kata yang menyangatkan. Apapunrezki yang ada di alam semesta ini berasal dari Allah Ta’ala. Rezki itu ada dua :Pertama : Rezki yang manfaatnya berlanjut sejak di dunia hingga di akhirat, yaiturezki hati. Contohnya : Ilmu, iman, dan rezki halal.Yang kedua : Rezki yang secara umum diberikan kepada seluruh manusia, yangshalih maupun yang jahat, termasuk binatang dan lain-lain.Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki sifat Al-Quwwah (Kekuatan), Al-Qawiyartinya adalah Syadidul Quwwah (Sangat Kuat). Maka, Al-Qawiy merupakansalah satu nama-Nya, yang berarti Yang Memiliki Sifat Kuat. Adapun Al-Matinberarti Yang Memiliki Puncak Kekuatan dan Kekuasaan.[3].[9]. As-Sam’u (Mendengar) [10]. Al-Bashar (Melihat)
 
١١.ُريِصَا ُعيِما َُهَو ٌءْَ ِِْثِمَ َسْيَ 
“Artinya : Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya dan Dia MahaMendengar lagi Maha Melihat.” [Asy-Sura: 11]Di antara sifat-sifat Dzatiyah Allah adalah As-Sam’u dan Al-Bashar. Jadi, Allahmemiliki sifat mendengar dan melihat, sesuai dengan keagungan-Nya, tidaksebagaimana mendengar dan melihatnya makhluk-Nya. Bahkan, pendengaran-Nya meliputi segala hal yang terdengar, dan Dia Melihat dan menyaksikan
 
 

segala sesuatu, sekalipun sesuatu tersebut tersembunyi secara lahir maupunbatin. [4]Seorang penyair berkata :Duhai Dzat Yang Melihat nyamuk, ketika mengembangkan sayapnyaDi kegelapan malam yang pekat dan kelamDan Melihat urat syaraf di lehernyaJuga otak yang didalam tulang-tulang nan amat mungil ituBerikanlah kepadaku, ampunan yang menghapuskanDosa-dosa yang kulakukan, sejak kali pertama Foote Note.[1]. Shahih Muslimâ€‌IV/2084. Lihat juga Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyah‌, Al-Haras, hal. 42.[2]. Lihat Al-Ajwibah Al-Ushuliyah‌, hal.42[3]. Ar-Raudhah An-Nadiyah‌, hal. 74[4]. Lihat Ar-Raudhah An-Nadiyah‌, hal. 74 dan 112
 
AYAT-AYAT DAN HADITS-HADITS TENTANG SIFAT-SIFAT ALLAH
 Sifat : Al-Iradah, Al-Masyi’ah, Al-Mahabbah, Al-Mawaddah, Ar-Rahmah, Al-Maghfirah[11]. Sifat Al-Iradah Dan [12]. Sifat Al-Masyi’ah (Menghendaki)
 ٢٥٣.ُدِرُ َ ُَْفَ ا نِكـََو ْاُََْا َ ا ءَ ْََو 
“Artinya : Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan.Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” [Al-Baqarah : 253]
 ١٢٥َمََ ًجَرَ ًّيَض ُَْدَ ْَْَ ُِُ َأ ْِرُ نََو ِَْِِ ُَْدَ ْَرْشَ ُَِدْَ َأ ا ِِرُ نَمَ . َءَما ِ ُدصَ 
“Artinya : Siapa yang Allah berkehendak untuk memberikan petunjuk kepadanya,niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk) Islam. Dan siapa yang Allahberkehendak untuk menyesatkannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesaklagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit.”[Al-An’am : 125]Iradah (kehendak) Allah terbagi menjadi dua :
 
 

[1]. Al-Iradah Al-KauniyahAl-Iradah Al-Kauniyah ini bersinonim dengan Al-Masyi’ah. Iradah Kauniyah atauMasyi’ah ini berkenaan dengan apa saja yang hendak dilakukan dan diadakanoleh Allah Subhanallahu wa ta’ala Apabila Allah Subhanallahu wa ta’alamenghendaki terjadinya sesuatu, maka sesuatu itu terjadi begitu. Diamenghendakinya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala :
 ٨٢ُُكَيَ ْنُ ُَ َُَ ْَأ ًْيَ َاََأ اَذِإ ُُرْَأ َمِإ .
“Artinya : Sesungguhnya perintah-Nya, apabila Dia menghendaki sesuatu,hanyalah berkata kepadanya “Kun” (Jadilah), maka jadilah ia.” [Yasin : 82]Jadi, apapun yang dikehendaki oleh Allah, niscaya terjadi, sedangkan apapunyang dikehendaki Allah untuk tidak terjadi, niscaya tidak terjadi.[2]. Al-Iradah Asy-Syar’iyahIradah ini berkaitan dengan apa saja yang diperintahkan oleh Allah kepadahamba-hamba-Nya, berupa hal-hal yang dicintai dan diridhai-Nya. Iradah inidisebutkan, misalnya, dalam firman Allah Ta’ala :
 ١٨٥َرْُْا ُُكِب ُدِرُ ََو َرْُيْا ُُكِب ا ُدِرُ .
“Artinya : Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendakikesukaran bagimu.” [Al-Baqarah : 185]Perbedaan Antara Kedua Iradah Ini.Al-Iradah Al-Kauniyah Al-Qadariyah bersifat umum, meliputi seluruh peristiwadan apapun yang terjadi di jagad raya ini, entah berupa kebaikan maupunkeburukan, kekafiran maupun keimanan, dan ketaatan maupun kemaksiatan.Adapun Al-Iradah Ad-Diniyah Asy-Syar’iyah bersifat khusus berkaitan denganapa saja yang dicintai dan diridhai oleh Allah, yang dijelaskan di dalam Al-Kitabdan As-sunah.Kedua Iradah di atas berpadu pada diri seorang hamba yang taat. Adapun orangyang bermaksiat dan kafir hanya mengikuti Al-Iradah Al-Kauniyah Al-Qadariyah.Artinya, ketaatan seseorang itu sesuai dengan iradah (kehendak) Allah, baik Al-Iradah Ad-Diniyah Asy-Syar’iyah maupun Al-Iradah Al-Kauniyah Al-Qadariyah.Adapun orang kafir, perbuatannya itu sesuai dengan iradah kauniyah qadariyah,tetapi tidak sesuai dengan iradah diniyah syar’iyah. [1][13]. Sifat Al-Mahabbah (Cinta) [14]. Al-Mawaddah (Cinta yang Murni)
 ١٩٥َنيِِْحُمْا ِحُ ا ِإ ْاَُِْَأَو .
 
 

“Artinya : Dan berbuat baiklah, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yangberbuat baik.” [Al-Baqarah : 195]Cinta Allah itu merupakan sifat yang sesuai dengan keagungan-Nya,sebagaimana telah dijelaskan di muka. la merupakan sifat Fi’liyah, yang munculdisebabkan dilaksanakannya perintah Allah, yaitu ibadah kepada Allah denganbaik dan perbuatan baik kepada hamba-hamba-Nya. Demikian halnya sifatMawaddah. Karena Allah berfirman :
 ١٤ُوُَْا ُُفَغْا َُهَو .
“Artinya : Dan Dia Maha Pengampun dan Maha Pencinta dengan kecintaan yangmurni.” [Al-Buruj : 14]Al-Wudd artinya kecintaan yang bersih dan murni.[15]. Sifat Ar-Rahmah (Kasih Sayang), [16]. Al-Maghfirah (Mengampuni)
 ٧.ًمْِَو ًةَمْ ٍءْَ ُ َْِَو َبَ 
“Artinya : Wahai Rabb kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi sesutu.” [Ghafir :7]
 ١٠٧ُيِرا ُُفَغْا َُهَو .
“Artinya : Dan Dia Yang memberikan ampunan dan sayang.” [Yunus : 107]Pada ayat pertama, Allah menetapkan sifat rahmah bagi diri-Nya, sedangkanpada ayat kedua, Allah Subhanallahu wa ta’ala menetapkan sifat Maghfirah. Kitamenetapkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi diri-Nya, dengan artianyang layak bagi-NyaFoote Note.[1]. “Al-Aqidah Ath-Thawiyah‌, hal.116, Syarh Al-Wasithiyah‌Al-Haras, hal. 52 danAl-Ushuliyah‌, hal.48
 
AYAT-AYAT DAN HADITS-HADITS TENTANG SIFAT-SIFAT ALLAH
 Sifat : Ar-Ridha, Al-Ghadhab. As-Sukht, Al-La’n, Al-Karahiyah, Al-Wajhu, Al-Yadain, Al-Ainain
 
 

[17]. Sifat Ar-Ridha [18]. Al-Ghadhab (Marah) [19]. As-Sukht (Murka)[20]. Al-La’an (Melaknat) [2l]. Al-Karahiyah (Benci) [22]. Al-Asaf (Marah) [23]. Al-Maqt (Murka)
 ٨ُْَ اُضََو ْُْَ ُا َِض .
“Artinya : Allah meridhai mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.” [Al-Bayyinah : 8]
 ٩٣ُََََو ِْيََ ا َِََو َيِ ًادِَخ ُََج ُُؤآَزََ ًادّمََ ًِْُ ْُْَ نََو .
“Artinya : Dan siapa membunuh seorang mukmin secara sengaja, makabalasannya adalah Jahannam, ia kekal di dalamnya, sedangkan Allah marah danmelaknatnya.” [An-Nisa’ : 93]
 ٢٨ُَاَْضِ اُهِرََو َا ََْَأ َ اُَتا ُُَِب َِَذ .
“Artinya : Itu dikarenakan mereka mengikuti apa yang menjadikan Allah murkadan mereka membenci keridhaan-Nya.” [Muhammad : 28]
 ٥٥َنيِَمْجَأ ْُهَْَرْََ ْُْِ َْمََا َُفَآ مََ .
“Artinya : Maka ketika mereka telah menyebabkan Kami marah, maka Kamimenghukum mereka.” [Az-Zukhruf : 55]
 ٣َُَْفَت َ َ اُُَت َأ ِا َدِ ًْَ َرُَ .
“Artinya : Amat besarlah kemurkaan di sisi Allah, jika kamu mengatakan apa-apayang tiada kamu kerjakan.” [Ash-Shaf : 3]
 ٤٦.ْُََِا ا َِرَ نِكـََو 
“Artinya : Tetapi Allah membenci keberangkatan mereka.” [At-Taubah : 46]Dalam ayat-ayat ini, Allah menetapkan bagi diri-Nya sifat Al-Ghadhab, marah,As-Sukht, murka, Ar- Ridha, Al-La’an (melaknat), Al-Karahiyah (benci), Al- Asaf (marah), serta Al-Maqt (murka). Ini semua merupakan sifat-sifat Af’al (perbuatan)yang dilakukan oleh Allah ‘Azza wa Jalla, bila Dia menghendaki. Selainmenetapkan sifat-sifat Dzatiyah bagi Allah, Ahlus Sunnah wal Jama’ah jugamenetapkan sifat-sifat Fi’liyah-Nya yang bersifat ikhtiyari (pilihan), dengan maknayang layak dengan keagungan-Nya.[24]. Al-Maji’ (Tiba) [25]. Al-Ityan (Datang)
 
 

 ٢١٠ُرْَا َِُَو ُةَكِئلَمْاَو ِَمَغْا َنّ ٍَُ ِ ا ُُَيِتْَ َأ ِإ َوُرُظَ ْَه .
“Artinya : Tiada yang mereka nanti-nantikan melainkan kedatangan Allah danmalaikat (pada hari kiamat) dalam naungan awan, dan diputuskanlahperkaranya.” [Al-Baqarah : 210]
 ٢١.َ َ ُْَْا ِُ اَذِإ َ .٢٢فَ فَ ُََمْاَو َبَ ءَجَو .
“Artinya : Jangan (berbuat demikian). Apabila bumi digoncangkan berturut-turut.Dan tibalah Rabbmu sedangkan malaikat berbaris-baris.” [Al-Fajr : 21-22]Ayat-ayat yang disebutkan oleh penulis ini, juga ayat-ayat yang lain, memuatpenetapan sifat Al-Maji’ (tiba’) dan Al-ltyan (datang), demikian pula sifat An-Nuzul(turun), sesuai dengan makna yang layak dengan keagungan Allah Ta’ala.Perbuatan-perbuatan ikhtiari ini dilakukan berkaitan dengan Al-Masyi’ah(kehendak) dan Al-Qudrah (kemampuan) Allah.[26]. Sifat Al-Wajhu (Wajah), [27]. Al-Yadain (Dua Tangan), [28]. Al-‘Ainain (DuaMata)
 ٢٧ِاَرْِْاَو ِََْا وُذ َّبَ ُْجَو ىَْََو .
“Artinya : Dan tetap kekal Wajah Rabbmu yang mempunyai kebesaran dankemuliaan.” [Ar-Rahman : 27]
 ٤٨َِُيْَِب َِَ َّبَ ِْكُحِ ْرِْاَو .
“Artinya : Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Rabbmu, sesungguhnyakamu berada dalam penglihatan Mata Kami” [Ath-Thur : 48]
 
٧٥َدَيِب ُْََخ َمِ َدُْَت َأ ََََ َ .
“Artinya : Apakah yang menghalangi kamu sujud kepada (Adam) yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku.” [Shad : 75]Dalam ayat-ayat ini terkandung penetapan wajah, dua tangan, dan dua matabagi Allah Ta’ala, dengan sifat yang sesuai dengan kebesaran-Nya. Adapunhadits yang menunjukkan sifat dua mata ini, adalah sabda Nabi Sallallahu ‘alaihiwassalam :Artinya : Sesungguhnya Rabbmu tidak buta sebelah matanya.” [1]Foote Note.[1]. Fathul Bari‌XII/91 dan Muslim IV/2248
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

“Artinya : Sesungguhnya, Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”[Yusuf : 100].”Artinya : Dan Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” [Al-An’am :18]Al-Ilmu merupakan salah satu sifat Dzatiyah yang tidak akan pernah lepas dariAllah Ta’ala. Ilmu Allah meliputi segala sesuatu, secara global maupun terperinci.Kebijaksanaan Allah berlaku di dunia maupun di akhirat. Apabila Allahmenyempurnakan sesuatu, maka sesuatu itu tidak mengandung kerusakan.Allah telah menciptakan manusia dan Dia Maha Suci, Maha Bijaksana, lagi MahaMengetahui. [2][6]. Sifat Ar-Rizq (Memberi Rezki) [7] . Al-Quwwah (Kuat) [8]. Al-Matanah (Kokoh)
٥٨ُنيِَمْا ِُْا وُذ ُقارا َُه َا ِإ .
“Artinya : Sesungguhnya Allah Maha Pemberi Rezki, Yang MempunyaiKekuatan, dan Yang Sangat Kokoh.” [Adz-Dariat : 58]Ar-Razzaq artinya Yang banyak memberi rezki secara luas (sebagaimanaditunjukkan oleh shighah mubalaghah bentuk kata yang menyangatkan. Apapunrezki yang ada di alam semesta ini berasal dari Allah Ta’ala. Rezki itu ada dua :Pertama : Rezki yang manfaatnya berlanjut sejak di dunia hingga di akhirat, yaiturezki hati. Contohnya : Ilmu, iman, dan rezki halal.Yang kedua : Rezki yang secara umum diberikan kepada seluruh manusia, yangshalih maupun yang jahat, termasuk binatang dan lain-lain.Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki sifat Al-Quwwah (Kekuatan), Al-Qawiyartinya adalah Syadidul Quwwah (Sangat Kuat). Maka, Al-Qawiy merupakansalah satu nama-Nya, yang berarti Yang Memiliki Sifat Kuat. Adapun Al-Matinberarti Yang Memiliki Puncak Kekuatan dan Kekuasaan.[3].[9]. As-Sam’u (Mendengar) [10]. Al-Bashar (Melihat)
 
١١.ُريِصَا ُعيِما َُهَو ٌءْَ ِِْثِمَ َسْيَ 
“Artinya : Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya dan Dia MahaMendengar lagi Maha Melihat.” [Asy-Sura: 11]Di antara sifat-sifat Dzatiyah Allah adalah As-Sam’u dan Al-Bashar. Jadi, Allahmemiliki sifat mendengar dan melihat, sesuai dengan keagungan-Nya, tidaksebagaimana mendengar dan melihatnya makhluk-Nya. Bahkan, pendengaran-Nya meliputi segala hal yang terdengar, dan Dia Melihat dan menyaksikan
 
 

segala sesuatu, sekalipun sesuatu tersebut tersembunyi secara lahir maupunbatin. [4]Seorang penyair berkata :Duhai Dzat Yang Melihat nyamuk, ketika mengembangkan sayapnyaDi kegelapan malam yang pekat dan kelamDan Melihat urat syaraf di lehernyaJuga otak yang didalam tulang-tulang nan amat mungil ituBerikanlah kepadaku, ampunan yang menghapuskanDosa-dosa yang kulakukan, sejak kali pertama Foote Note.[1]. Shahih Muslimâ€‌IV/2084. Lihat juga Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyah‌, Al-Haras, hal. 42.[2]. Lihat Al-Ajwibah Al-Ushuliyah‌, hal.42[3]. Ar-Raudhah An-Nadiyah‌, hal. 74[4]. Lihat Ar-Raudhah An-Nadiyah‌, hal. 74 dan 112
 
AYAT-AYAT DAN HADITS-HADITS TENTANG SIFAT-SIFAT ALLAH
 Sifat : Al-Iradah, Al-Masyi’ah, Al-Mahabbah, Al-Mawaddah, Ar-Rahmah, Al-Maghfirah[11]. Sifat Al-Iradah Dan [12]. Sifat Al-Masyi’ah (Menghendaki)
 ٢٥٣.ُدِرُ َ ُَْفَ ا نِكـََو ْاُََْا َ ا ءَ ْََو 
“Artinya : Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan.Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” [Al-Baqarah : 253]
 ١٢٥َمََ ًجَرَ ًّيَض ُَْدَ ْَْَ ُِُ َأ ْِرُ نََو ِَْِِ ُَْدَ ْَرْشَ ُَِدْَ َأ ا ِِرُ نَمَ . َءَما ِ ُدصَ 
“Artinya : Siapa yang Allah berkehendak untuk memberikan petunjuk kepadanya,niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk) Islam. Dan siapa yang Allahberkehendak untuk menyesatkannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesaklagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit.”[Al-An’am : 125]Iradah (kehendak) Allah terbagi menjadi dua :
 
 

[1]. Al-Iradah Al-KauniyahAl-Iradah Al-Kauniyah ini bersinonim dengan Al-Masyi’ah. Iradah Kauniyah atauMasyi’ah ini berkenaan dengan apa saja yang hendak dilakukan dan diadakanoleh Allah Subhanallahu wa ta’ala Apabila Allah Subhanallahu wa ta’alamenghendaki terjadinya sesuatu, maka sesuatu itu terjadi begitu. Diamenghendakinya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala :
 ٨٢ُُكَيَ ْنُ ُَ َُَ ْَأ ًْيَ َاََأ اَذِإ ُُرْَأ َمِإ .
“Artinya : Sesungguhnya perintah-Nya, apabila Dia menghendaki sesuatu,hanyalah berkata kepadanya “Kun” (Jadilah), maka jadilah ia.” [Yasin : 82]Jadi, apapun yang dikehendaki oleh Allah, niscaya terjadi, sedangkan apapunyang dikehendaki Allah untuk tidak terjadi, niscaya tidak terjadi.[2]. Al-Iradah Asy-Syar’iyahIradah ini berkaitan dengan apa saja yang diperintahkan oleh Allah kepadahamba-hamba-Nya, berupa hal-hal yang dicintai dan diridhai-Nya. Iradah inidisebutkan, misalnya, dalam firman Allah Ta’ala :
 ١٨٥َرْُْا ُُكِب ُدِرُ ََو َرْُيْا ُُكِب ا ُدِرُ .
“Artinya : Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendakikesukaran bagimu.” [Al-Baqarah : 185]Perbedaan Antara Kedua Iradah Ini.Al-Iradah Al-Kauniyah Al-Qadariyah bersifat umum, meliputi seluruh peristiwadan apapun yang terjadi di jagad raya ini, entah berupa kebaikan maupunkeburukan, kekafiran maupun keimanan, dan ketaatan maupun kemaksiatan.Adapun Al-Iradah Ad-Diniyah Asy-Syar’iyah bersifat khusus berkaitan denganapa saja yang dicintai dan diridhai oleh Allah, yang dijelaskan di dalam Al-Kitabdan As-sunah.Kedua Iradah di atas berpadu pada diri seorang hamba yang taat. Adapun orangyang bermaksiat dan kafir hanya mengikuti Al-Iradah Al-Kauniyah Al-Qadariyah.Artinya, ketaatan seseorang itu sesuai dengan iradah (kehendak) Allah, baik Al-Iradah Ad-Diniyah Asy-Syar’iyah maupun Al-Iradah Al-Kauniyah Al-Qadariyah.Adapun orang kafir, perbuatannya itu sesuai dengan iradah kauniyah qadariyah,tetapi tidak sesuai dengan iradah diniyah syar’iyah. [1][13]. Sifat Al-Mahabbah (Cinta) [14]. Al-Mawaddah (Cinta yang Murni)
 ١٩٥َنيِِْحُمْا ِحُ ا ِإ ْاَُِْَأَو .
 
 

“Artinya : Dan berbuat baiklah, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yangberbuat baik.” [Al-Baqarah : 195]Cinta Allah itu merupakan sifat yang sesuai dengan keagungan-Nya,sebagaimana telah dijelaskan di muka. la merupakan sifat Fi’liyah, yang munculdisebabkan dilaksanakannya perintah Allah, yaitu ibadah kepada Allah denganbaik dan perbuatan baik kepada hamba-hamba-Nya. Demikian halnya sifatMawaddah. Karena Allah berfirman :
 ١٤ُوُَْا ُُفَغْا َُهَو .
“Artinya : Dan Dia Maha Pengampun dan Maha Pencinta dengan kecintaan yangmurni.” [Al-Buruj : 14]Al-Wudd artinya kecintaan yang bersih dan murni.[15]. Sifat Ar-Rahmah (Kasih Sayang), [16]. Al-Maghfirah (Mengampuni)
 ٧.ًمْِَو ًةَمْ ٍءْَ ُ َْِَو َبَ 
“Artinya : Wahai Rabb kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi sesutu.” [Ghafir :7]
 ١٠٧ُيِرا ُُفَغْا َُهَو .
“Artinya : Dan Dia Yang memberikan ampunan dan sayang.” [Yunus : 107]Pada ayat pertama, Allah menetapkan sifat rahmah bagi diri-Nya, sedangkanpada ayat kedua, Allah Subhanallahu wa ta’ala menetapkan sifat Maghfirah. Kitamenetapkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi diri-Nya, dengan artianyang layak bagi-NyaFoote Note.[1]. “Al-Aqidah Ath-Thawiyah‌, hal.116, Syarh Al-Wasithiyah‌Al-Haras, hal. 52 danAl-Ushuliyah‌, hal.48
 
AYAT-AYAT DAN HADITS-HADITS TENTANG SIFAT-SIFAT ALLAH
 Sifat : Ar-Ridha, Al-Ghadhab. As-Sukht, Al-La’n, Al-Karahiyah, Al-Wajhu, Al-Yadain, Al-Ainain
 
 

[17]. Sifat Ar-Ridha [18]. Al-Ghadhab (Marah) [19]. As-Sukht (Murka)[20]. Al-La’an (Melaknat) [2l]. Al-Karahiyah (Benci) [22]. Al-Asaf (Marah) [23]. Al-Maqt (Murka)
 ٨ُْَ اُضََو ْُْَ ُا َِض .
“Artinya : Allah meridhai mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.” [Al-Bayyinah : 8]
 ٩٣ُََََو ِْيََ ا َِََو َيِ ًادِَخ ُََج ُُؤآَزََ ًادّمََ ًِْُ ْُْَ نََو .
“Artinya : Dan siapa membunuh seorang mukmin secara sengaja, makabalasannya adalah Jahannam, ia kekal di dalamnya, sedangkan Allah marah danmelaknatnya.” [An-Nisa’ : 93]
 ٢٨ُَاَْضِ اُهِرََو َا ََْَأ َ اُَتا ُُَِب َِَذ .
“Artinya : Itu dikarenakan mereka mengikuti apa yang menjadikan Allah murkadan mereka membenci keridhaan-Nya.” [Muhammad : 28]
 ٥٥َنيِَمْجَأ ْُهَْَرْََ ْُْِ َْمََا َُفَآ مََ .
“Artinya : Maka ketika mereka telah menyebabkan Kami marah, maka Kamimenghukum mereka.” [Az-Zukhruf : 55]
 ٣َُَْفَت َ َ اُُَت َأ ِا َدِ ًْَ َرُَ .
“Artinya : Amat besarlah kemurkaan di sisi Allah, jika kamu mengatakan apa-apayang tiada kamu kerjakan.” [Ash-Shaf : 3]
 ٤٦.ْُََِا ا َِرَ نِكـََو 
“Artinya : Tetapi Allah membenci keberangkatan mereka.” [At-Taubah : 46]Dalam ayat-ayat ini, Allah menetapkan bagi diri-Nya sifat Al-Ghadhab, marah,As-Sukht, murka, Ar- Ridha, Al-La’an (melaknat), Al-Karahiyah (benci), Al- Asaf (marah), serta Al-Maqt (murka). Ini semua merupakan sifat-sifat Af’al (perbuatan)yang dilakukan oleh Allah ‘Azza wa Jalla, bila Dia menghendaki. Selainmenetapkan sifat-sifat Dzatiyah bagi Allah, Ahlus Sunnah wal Jama’ah jugamenetapkan sifat-sifat Fi’liyah-Nya yang bersifat ikhtiyari (pilihan), dengan maknayang layak dengan keagungan-Nya.[24]. Al-Maji’ (Tiba) [25]. Al-Ityan (Datang)
 
 

 ٢١٠ُرْَا َِُَو ُةَكِئلَمْاَو ِَمَغْا َنّ ٍَُ ِ ا ُُَيِتْَ َأ ِإ َوُرُظَ ْَه .
“Artinya : Tiada yang mereka nanti-nantikan melainkan kedatangan Allah danmalaikat (pada hari kiamat) dalam naungan awan, dan diputuskanlahperkaranya.” [Al-Baqarah : 210]
 ٢١.َ َ ُْَْا ِُ اَذِإ َ .٢٢فَ فَ ُََمْاَو َبَ ءَجَو .
“Artinya : Jangan (berbuat demikian). Apabila bumi digoncangkan berturut-turut.Dan tibalah Rabbmu sedangkan malaikat berbaris-baris.” [Al-Fajr : 21-22]Ayat-ayat yang disebutkan oleh penulis ini, juga ayat-ayat yang lain, memuatpenetapan sifat Al-Maji’ (tiba’) dan Al-ltyan (datang), demikian pula sifat An-Nuzul(turun), sesuai dengan makna yang layak dengan keagungan Allah Ta’ala.Perbuatan-perbuatan ikhtiari ini dilakukan berkaitan dengan Al-Masyi’ah(kehendak) dan Al-Qudrah (kemampuan) Allah.[26]. Sifat Al-Wajhu (Wajah), [27]. Al-Yadain (Dua Tangan), [28]. Al-‘Ainain (DuaMata)
 ٢٧ِاَرْِْاَو ِََْا وُذ َّبَ ُْجَو ىَْََو .
“Artinya : Dan tetap kekal Wajah Rabbmu yang mempunyai kebesaran dankemuliaan.” [Ar-Rahman : 27]
 ٤٨َِُيْَِب َِَ َّبَ ِْكُحِ ْرِْاَو .
“Artinya : Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Rabbmu, sesungguhnyakamu berada dalam penglihatan Mata Kami” [Ath-Thur : 48]
 
٧٥َدَيِب ُْََخ َمِ َدُْَت َأ ََََ َ .
“Artinya : Apakah yang menghalangi kamu sujud kepada (Adam) yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku.” [Shad : 75]Dalam ayat-ayat ini terkandung penetapan wajah, dua tangan, dan dua matabagi Allah Ta’ala, dengan sifat yang sesuai dengan kebesaran-Nya. Adapunhadits yang menunjukkan sifat dua mata ini, adalah sabda Nabi Sallallahu ‘alaihiwassalam :Artinya : Sesungguhnya Rabbmu tidak buta sebelah matanya.” [1]Foote Note.[1]. Fathul Bari‌XII/91 dan Muslim IV/2248
 
 
 
 
 
 
 
 


MENGIMANI ASMA’ WA SIFAT-NYA 

Daripada Blog Rasmi (Aqidah):
http://aqidah-wa-manhaj.blogspot.com
MAKNA TAUHID ASMA’ WA SIFAT DAN MANHAJ SALAF (GOLONGAN AWAL)
DI DALAMNYA 
Iaitu beriman kepada nama-nama Allah s.w.t. dan sifat-sifat-Nya, sebagaimana yang
diterangkan dalam al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya s.a.w., menurut apa yang layak
bagi Allah s.w.t., tanpa ta’wil dan ta’thil, tanpa takyif, dan tamtsil, berdasarkan
firman Allah s.w.t.:
ُ
ﺮﻴِﺼَﺒْﻟا ُﻊﻴِﻤﱠﺴﻟا َﻮُهَو ٌءْﻲَﺷ ِﻪِﻠْﺜِﻤَآ َﺲْﻴَﻟ
Tiada sesuatupun yang serupa dengan (ZatNya, sifat-sifatNya, dan pentadbiranNya)
dan Dia lah yang Maha Mendengar, lagi Maha Melihat. (asy-Syura 42: 11)
Ta’thil – adalah menghilangkan makna atau sifat Allah. 

Takyif – adalah mempersoalkan hakikat asma’ dan sifat Allah dengan bertanya 
“bagaimana”.
Tamtsil – adalah menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya.

Allah menafikan jika ada sesuatu yang menyerupai-Nya, dan Dia menetapkan
bahawa Dia adalah Maha Mendengar dan Maha Melihat. Maka Dia diberi nama dan
sifat dengan nama dan sifat yang Dia sendiri berikan untuk diri-Nya dan dengan
nama dan sifat yang disampaikan oleh Rasul-Nya (melalui hadis). Al-Qur’an dan as-
Sunnah dalam hal ini tidak boleh dilanggar, kerana tidak seorangpun yang lebih
mengetahui Allah daripada Allah sendiri, dan tidak ada sesudah Allah orang yang
lebih mengetahui Allah daripada Rasul-Nya. Maka barangsiapa yang mengingkari
nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya atau menamakan Allah dan menyifati-Nya
dengan nama-nama dan sifat-sifat makhluk-Nya, menta’wilkannya dari maknanya
yang benar (haq), maka dia telah berbicara tentang allah tanpa ilmu dan berdusta
terhadap Allah dan Rasul-Nya.
Allah s.w.t. berfirman:
 ىَﺮَﺘْﻓا ِﻦﱠﻤِﻣ ُﻢَﻠْﻇَأ ْﻦَﻤَﻓ ٍﻦِّﻴَﺑ ٍنﺎَﻄْﻠُﺴِﺑ ْﻢِﻬْﻴَﻠَﻋ َنﻮُﺗْﺄَﻳ ﻻْﻮَﻟ ًﺔَﻬِﻟﺁ ِﻪِﻧوُد ْﻦِﻣ اوُﺬَﺨﱠﺗا ﺎَﻨُﻣْﻮَﻗ ِءﻻُﺆَه
ﺎًﺑِﺬَآ ِﻪﱠﻠﻟا ﻰَﻠَﻋ
Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan
terhadap Allah? (al-Kahfi 18: 15)
MANHAJ SALAF (PARA SAHABAT, TABI’IN DAN ULAMA PADA KURUN WAKTU 
YANG DIUTAMAKAN) DALAM HAL ASMA’ DAN SIFAT ALLAH 
1

background image

Iaitu mengimani dan menetapkannya sebagaimana ia datang tanpa tahrif
(mengubah), ta’thil (menafikan), takyif (menanyakan bagaimana) dan tamtsil
(menyerupakan), dan hal itu termasuk pengertian beriman kepada Allah.
*
*
 Iman seperti ini juga dianut oleh Syeikh Abdul Qadir al-Jailani (wafat tahun 561 H.), lihat kitabnya “al-
Fathur Rabbani wal Faidhur Rahmaniy”, cetakan al-Haramain, hal. 34, 61, 76, dan 303). 
Imam Ahmad rahimahullah berkata, Allah tidak boleh disifati kecuali dengan apa
yang disifati oleh-Nya untuk Diri-Nya atau apa yang sifatkan melalui Rasul-Nya,
serta tidak boleh melampaui al-Qur’an dan al-Hadis. Mazhab (jalan/landasan) salaf
menyifati Allah dengan apa yang Dia sifatkan untuk Diri-Nya dan dengan apa yang
disifatkan melalui Rasul-Nya, tanpa tahrif dan ta’thil, takyif dan tamtsil.
Kita mengetahui bahawa apa yang Allah sifatkan untuk Diri-Nya adalah haq (benar),
tidak mengandungi teka-teki dan tidak untuk dibongkar. Maknanya sudah
dimengerti, sebagaimana maksud orang yang berbicara juga dimengerti dari
pembicaraannya. Apalagi jika yang berbicara itu adalah Rasulullah, manusia yang
paling mengerti dengan apa yang dia katakan, yang paling fasih dalam menjelaskan
ilmu, dan paling baik serta mengerti dalam menjelaskan atau memberi petunjuk.
Dan sekali pun demikian, tidaklah ada sesuatu yang menyerupai Allah. Tidak dalam
Diri (Dzat)-Nya Yang Maha Suci yang disebut dalam asma’ dan sifat-Nya, juga tidak
dalam perbuatan-Nya. Sebagaimana yang kita yakini bahawa Allah s.w.t.
mempunyai Dzat, juga ad’al (perbuatan), maka begitu pula Dia benar-benar
mempunyai sifat-sifat, tetapi tidak ada satu pun yang menyamai-Nya, juga tidak
dalam perbuatan-Nya.
Setiap yang mengharuskan adanya kekurangan dan huduts
*
 maka Allah s.w.t.
benar-benar bebas dan Mahasuci dari hal tersebut. Sesungguhnya Allah adalah yang
memiliki kesempurnaan yang sempurna, tidak ada batas ayas-Nya. Dan mustahil
bagi Diri-Nya mengalami huduts, kerana mustahil bagi-Nya sifat ‘adam (tidak ada);
sebab huduts mengharuskan adanya sifat ‘adam sebelumnya, dan kerana sesuatu
yang baru pasti memerlukan muhdits (yang mengadakan), juga kerana Allah bersifat
wajibul wujud binafsi (wajib ada dengan sendiri-Nya).
*
Huduts ertinya baru, yang dahulunya tidak ada kemudian menjadi ada. Huduts adalah lawan kata dari 
qidam. 
Madzhab salaf adalah antara ta’thil dan tamtsil. Mereka tidak menyamakan atau
menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat-sifat makhluk-Nya. Sebagaimana
mereka tidak menyerupakan Dzat-Nya dengan dzat pada makhluk-Nya. Mereka tidak
menafikan apa yang Allah sifatkan untuk diri-Nya, atau apa yang disifatkan oleh
Rasul-Nya. Seandainya mereka menafikan, bererti mereka telah menghilangkan
asma’ husna dan sifat-sifat-Nya yang ‘ulya (luhur), dan bererti mengubah kalam dari
tempat yang sebenarnya, dan bererti pula mengingkari asma’ allah dan ayat-ayat-
Nya. (Lihat Majmu’ Fatawa, 5/26-27)
ASMA’ HUSNA DAN SIFAT KESEMPURNAAN, SERTA PENDAPAT GOLONGAN 
SESAT DAN BANTAHANNYA 
Pertama: ASMA’ HUSNA 
2

background image

 اﻮُﻧﺎَآ ﺎَﻣ َنْوَﺰْﺠُﻴَﺳ ِﻪِﺋﺎَﻤْﺳَأ ﻲِﻓ َنوُﺪِﺤْﻠُﻳ َﻦﻳِﺬﱠﻟا اوُرَذَو ﺎَﻬِﺑ ُﻩﻮُﻋْدﺎَﻓ ﻰَﻨْﺴُﺤْﻟا ُءﺎَﻤْﺳﻷا ِﻪﱠﻠِﻟَو
 َنﻮُﻠَﻤْﻌَﻳ
Dan Allah mempunyai nama-nama yang baik (asma’ul husna), maka serulah (dan
berdoalah) kepadanya dengan menyebut nama-nama itu, dan pulaukanlah orang-
orang yang berpaling dari kebenaran dalam masa menggunakan nama-nama-Nya.
Mereka akan mendapat balasan mengenai apa yang mereka telah kerjakan. (al-
A’raaf 7: 180)
Ayat yang agung ini menunjukkan hal-hal berikut:
1 – Menetapkan nama-nama (asma’) untuk Allah s.w.t., maka siapa yang
menafikannya bererti ia telah menafikan apa yang telah ditetapkan Allah dan juga
bererti dia telah menentang Allah s.w.t.

2 – Bahawasanya asma’ Allah s.w.t. semuanya adalah husna. Maksudnya sangat

baik. Kerana ia mengandungi makna dan sifat-sifat yang sempurna, tanpa
kekurangan dan cacat sedikit pun. Ia bukanlah sekadar nama-nama kosong yang
tidak bermakna atau tidak mengandungi erti.
3 – Sesungguhnya Allah meemrintahkan berdoa dan bertawassul kepada-Nya
dengan nama-nama-Nya. Maka hal ini menunjukkan keagungan-Nya serta kecintaan
Allah kepada doa yang disertai nama-nama-Nya.
4 – Bahawasanya Allah s.w.t. mengancam orang-orang yang ilhad dalam asma’-Nya
dan Dia akan membalas perbuatan mereka yang buruk itu.
ﻞﻴﻤﻟا
Ilhad menurut bahasa bererti “
” iaitu condong. Ilhad di dalam asma’ Allah
bererti menyelewengkannya dari makna-makan agung yang dikandungnya kepada
makna-makan batil yang tidak dikandungnya. Sebagaimana yang dilakukan orang-
orang yang menta’wilkannya dari makna-makan sebenarnya kepada makna yang
mereka ada-adakan.
Allah s.w.t. berfirman:
 ﻰَﻨْﺴُﺤْﻟا ُءﺎَﻤْﺳﻷا ُﻪَﻠَﻓ اﻮُﻋْﺪَﺗ ﺎَﻣ ﺎﻳَأ َﻦَﻤْﺣﱠﺮﻟا اﻮُﻋْدا ِوَأ َﻪﱠﻠﻟا اﻮُﻋْدا ِﻞُﻗ
Katakanlah (Wahai Muhammad): “Serulah nama ” Allah” atau nama “Ar-Rahman”,
Yang mana sahaja kamu serukan (dari kedua-dua nama itu adalah baik belaka);
kerana Allah mempunyai banyak nama-nama Yang baik serta mulia”… (al-Isra’ 17:
110)
3
Diriwayatkan, bahawa salah seorang musyrik mendengar baginda Nabi s.a.w. sedang
mengucapkan dalam sujudnya, “Ya Allah, ya Rahman”, maka ia berkata,
“Sesungguhnya Muhammad mengaku bahawa dirinya hanya menyembah satu
Tuhan, sedangkan ia memohon kepada dua tuhan.” Maka Allah menurunkan ayat ini.
Demikian seperti disebutkan oleh Ibnu Katheer. Maka Allah menyuruh hamba-
hamba-Nya untuk memanjatkan doa kepada-Nya dengan menyebut nama-nama-Nya
sesuai dengan keinginan-nya. Jika mreka mahu, mereka memanggil, “Ya Allah”, dan
jika mereka menghendaki boleh memanggil, “Ya Rahman” dan seterusnya. Hal ini
menunjukkan tetapnya nama-nama Allah dan bahawasanya masing-masing dari

background image

nama-Nya boleh digunakan untuk berdoa sesuai dengan maqam (keadaan) dan
situasinya, kerana semuanya adalah husna.
Allah s.w.t. berfirman:
ﻰَﻨْﺴُﺤْﻟا ُءﺎَﻤْﺳﻷا ُﻪَﻟ َﻮُه ﻻِإ َﻪَﻟِإ ﻻ ُﻪﱠﻠﻟا
Allah! Tiada Tuhan Yang berhak disembah melainkan Dia, bagiNyalah Segala nama
Yang baik. (Thaha 20: 8)
ّ
ِ
ﺒَﺴُﻳ ﻰَﻨْﺴُﺤْﻟا ُءﺎَﻤْﺳﻷا ُﻪَﻟ ُرِّﻮَﺼُﻤْﻟا ُئِرﺎَﺒْﻟا ُﻖِﻟﺎَﺨْﻟا ُﻪﱠﻠﻟا َﻮُه
 ِضْرﻷاَو ِتاَوﺎَﻤﱠﺴﻟا ﻲِﻓ ﺎَﻣ ُﻪَﻟ ُﺢ
 ُﻢﻴِﻜَﺤْﻟا ُﺰﻳِﺰَﻌْﻟا َﻮُهَو
Dia lah Allah, Yang menciptakan sekalian makhluk; Yang mengadakan (dari tiada
kepada ada); Yang membentuk rupa (makhluk-makhlukNya menurut Yang
dikehendakiNya); bagiNyalah nama-nama Yang sebaik-baiknya dan semulia-
mulianya; bertasbih kepadanya Segala Yang ada di langit dan di bumi; dan Dia lah
Yang tiada bandingNya, lagi Maha Bijaksana. (al-Hasyr 59: 24)
Maka barangsiapa menafikan asma’ Allah bererti ia berada di atas orang-orang
musyrik, sebagaimana firman Allah s.w.t.:
 اًرﻮُﻔُﻧ ْﻢُهَداَزَو ﺎَﻧُﺮُﻣْﺄَﺗ ﺎَﻤِﻟ ُﺪُﺠْﺴَﻧَأ ُﻦَﻤْﺣﱠﺮﻟا ﺎَﻣَو اﻮُﻟﺎَﻗ ِﻦَﻤْﺣﱠﺮﻠِﻟ اوُﺪُﺠْﺳا ُﻢُﻬَﻟ َﻞﻴِﻗ اَذِإَو
Dan apabila dikatakan kepada mereka (yang musyrik itu): “Sujudlah kamu kepada
Ar-Rahman (Tuhan Yang Maha Pemurah)!” mereka bertanya: “Dan siapakah Ar-
Rahman itu? Patutkah Kami sujud kepada apa sahaja yang Engkau perintahkan
kami?” dan perintah yang demikian, menjadikan mereka bertambah liar ingkar. (al-
Furqan 25: 60)
ِ
ﻟ ٌﻢَﻣُأ ﺎَﻬِﻠْﺒَﻗ ْﻦِﻣ ْﺖَﻠَﺧ ْﺪَﻗ ٍﺔﱠﻣُأ ﻲِﻓ َكﺎَﻨْﻠَﺳْرَأ َﻚِﻟَﺬَآ
 َنوُﺮُﻔْﻜَﻳ ْﻢُهَو َﻚْﻴَﻟِإ ﺎَﻨْﻴَﺣْوَأ يِﺬﱠﻟا ُﻢِﻬْﻴَﻠَﻋ َﻮُﻠْﺘَﺘ
ِ
بﺎَﺘَﻣ ِﻪْﻴَﻟِإَو ُﺖْﻠﱠآَﻮَﺗ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻮُه ﻻِإ َﻪَﻟِإ ﻻ ﻲِّﺑَر َﻮُه ْﻞُﻗ ِﻦَﻤْﺣﱠﺮﻟﺎِﺑ
Demikianlah, Kami utuskan Engkau (Wahai Muhammad) kepada satu umat Yang
telah lalu sebelumnya beberapa umat Yang lain, supaya Engkau membacakan
kepada mereka Al-Quran Yang Kami wahyukan kepadaMu, sedang mereka kufur
kepada (Allah) Ar-Rahman katakanlah: “Dia lah Tuhanku, tiada Tuhan (yang berhak
disembah) melainkan dia. kepadaNyalah Aku berserah diri, dan kepadaNyalah
tempat kembaliku (dan kamu semuanya)”. (ar-Ra’d 13: 30)
Maksudnya, ini yang kalian kufuri adalah Tuhanku, aku meyakini rububiyah,
uluhiyah, asma’ dan sifat-Nya. Maka hal ini menunjukkan bahawa rububiyah dan
uluhiyah-Nya mengharuskan adanya asma’ dan sifat Allah s.w.t.. Dan juga,
bahawasanya sesuatu yang tidak memiliki asma’ dan sifat tidaklah layak menjadi
Rabb (Tuhan) dan Ilah (sesembahan).
Kedua: KANDUNGAN ASMA’ HUSNA ALLAH
4
Nama-nama yang mulia ini bukanlah sekadar nama kosong yang tidak mengandungi
makna dan sifat, justeru ia adalah nama-nama yang menunjukkan kepada makna

background image

yang mulia dan sifat yang agung. Setiap nama menunjukkan kepada sifat, maka
nama ar-Rahman dan ar-Rahim menunjukkan kepada sifat rahmah; as-Sami’ dan al-
Bashir menunjukkan sifat mendengar dan melihat; al-‘Alim menunjukkan sifat ilmu
yang luas; al-Karim menunjukkan sifat karam (dermawan dan mulia); al-Khaliq
menunjukkan Dia menciptakan; dan ar-Razzaq menunjukkan Dia memberi rezeki
dengan jumlah yang banyak sekali. Begitulah seterusnya, setiap nama dari nama-
nama-Nya menunjukkan sifat dari sifat-sifat-Nya.
Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Setiap nama dari nama-nama-Nya
menunjukkan kepada Dzat yang disebutnya dan sifat yang dikandungnya, seperti al-
‘Alim menunjukkan Dzat dan ilmu, al-Qadir menunjukkan Dzat dan qudrah, ar-Rahim
menunjukkan Dzat dan sifat rahmat.” (Lihat Majmu’ Fatawa, 13/333-334)
Ibnul Qayyim berkata, “Nama-nama Rabb s.w.t. menunjukkan sift-sifat
kesempurnaan-Nya, kerana ia diambil dari sifat-sifat-Nya. Jadi ia adalah nama
sekaligus sifat dan kerana itulah ia menjadi husna. Sebab andai kata ia hanyalah
lafaz-lafaz yang tidak memiliki makna maka tidaklah disebut husna, juga tidak
menunjukkan kepada pujian dan kesempurnaan. Jika demikian tentu diperbolehkan
meletakkan nama intiqam (balas dendam) dan ghadhab (marah) pada tempat
rahmat dan ihsan, atau sebaliknya. Sehingga boleh dikatakan, “Ya Allah
sesungguhnya aku telah menzalimi diri sendiri, maka ampunilah aku, kerana
sesungguhnya Engkau adalah al-Muntaqin (maha Membalas Dendam). Ya Allah
anugerahilah aku, kerana sesungguhnya engkau adalah adh-Dhar (Yang Memberi
Mudharat) dan al-Mani’ (Yang Menolak)…” dan yang seumpamanya. Lagi pula kalau
tidak menunjukkan erti dan sifat, tentu tidak dibolehkan memberi khabar dengan
masdar-masdar-nya dan tidak boleh menyifati dengannya. Tetapi kenyataannya
Allah sendiri telah mengabarkan tentang Diri-Nya dengan masdar-masdar-Nya dan
menetapkannya untuk Diri-Nya dan telah ditetapkan oleh Rasul-Nya untuk-Nya,
sebagaimana firman Allah s.w.t.:
ُ
ﻦﻴِﺘَﻤْﻟا ِةﱠﻮُﻘْﻟا وُذ ُقاﱠزﱠﺮﻟا َﻮُه َﻪﱠﻠﻟا ﱠنِإ
Sesungguhnya Allah Dia lah sahaja Yang memberi rezeki (kepada sekalian
makhlukNya, dan Dia lah sahaja) Yang mempunyai kekuasaan Yang tidak terhingga,
lagi Yang Maha kuat kukuh kekuasaanNya. (adz-Dzariyat 51: 58)
Dari sini diketahui bahawa al-Qawiy adalah salah satu nama-nama-Nya yang
bermakna “Dia Yang Mempunyai Kekuatan”. Begitu pula firman Allah:
ﺎًﻌﻴِﻤَﺟ ُةﱠﺰِﻌْﻟا ِﻪﱠﻠِﻠَﻓ
kerana bagi Allah jualah Segala kemuliaan. (Fathir 35: 10)
ﺰﻳﺰﻌﻟا
” adalah “Yang Memiliki Izzah (kemuliaan)”. Seandainya tidak memiliki
kekuatan dan izzah maka tidak boleh dinamakan “
ﺰﻳﺰﻌﻟا
يﻮﻘﻟا
” dan “
”. Sampai
akhirnya Ibnu Qayyim berkata: “…juga seandainya asma’-Nya tidak mengandungi
makna dan sifat maka tidak boleh mengkhabari tentang Allah dengan fi’il (kata
kerja) nya. Maka tidak boleh dikatakan “
ﻊﻤﺴﻳ
ىﺮﻳ
” (Dia mendengar), “
” (Dia
melihat),
ﻢﻠﻌﻳ
رﺪﻘﻳ
ﺪﻳﺮﻳ
 (Dia mengetahui), “
” (Dia berkuasa) dan “
5
” (Dia
berkehendak). Kerana tetapnya hukum-hukum sifat adalah satu cabang dari

background image

ketetapan sifat-sifat itu. Jika pangkal sifat tidak ada maka mustahil adanya
ketetapan hukumnya.” (Lihat Madarijus Salikin, 1/28-29)
Ketiga: PEMERHATIAN TERHADAP SIFAT-SIFAT ALLAH 
Sifat-sifat Allah terbahagi menadi dua bahagian. Bahagian pertama, adalah sifat
dzatiyah, iaitu sifat yang senantiasa melekat dengan-Nya. Sifat ini tidak berpisah
dari DzatNya. Seperti “
ﻢﻠﻌﻟا
ةرﺪﻘﻟا
ﻊﻤﺴﻟا
)
” (ilmu , “
” (kekuasaan), “
” (mendengar),
ﺮﺼﺒﻟا
ةﺰﻌﻟا
ﺔﻤﻜﺤﻟا
ﻮﻠﻌﻟا
” (melihat), “
” (kemuliaan), “
” (hikmah), “
” (ketinggian),
ﺔﺟﻮﻟا
ﻦﻳﺪﻴﻟا
ﻦﻴﻨﻴﻌﻟا
ﺔﻤﻈﻌﻟا” (keagungan), “
” (wajah), “
” (dua tangan), “
” (dua mata).
Bahagian kedua, adalah sifat fi’liyah. Iaitu sifat yang Dia perbuat jika berkehendak.
Seperti, bersemayam di atas ‘Arsy, turun ke langit dunia ketika tinggal sepertiga
akhir dari malam, dan datang pada hari kiamat.

Berikut ini kami sebutkan sejumlah sifat-sifat Allah dengan dalil dan keterangannya,

apakah ia termasuk dzatiy atau fi’liy…
1 – al-Qudrah (Berkuasa) 
Allah s.w.t. berfirman:
ٍ
ءْﻲَﺷ ِّﻞُآ ﻰَﻠَﻋ َﻮُهَو ﱠﻦِﻬﻴِﻓ ﺎَﻣَو ِضْرﻷاَو ِتاَوﺎَﻤﱠﺴﻟا ُﻚْﻠُﻣ ِﻪﱠﻠِﻟٌﺮﻳِﺪَﻗ
Allah jualah Yang Menguasai alam langit dan bumi serta segala yang ada padanya;
dan Dia lah jua yang Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu. (al-Ma’idah 5: 120)
 ٍءْﻲَﺷ ِّﻞُآ ﻰَﻠَﻋ َﻪﱠﻠﻟا ﱠنِإٌﺮﻳِﺪَﻗ
Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu. (al-Baqarah 2: 20)
 َﺢَﺒْﺻَﺄَﻓ ِضْرﻷا ُتﺎَﺒَﻧ ِﻪِﺑ َﻂَﻠَﺘْﺧﺎَﻓ ِءﺎَﻤﱠﺴﻟا َﻦِﻣ ُﻩﺎَﻨْﻟَﺰْﻧَأ ٍءﺎَﻤَآ ﺎَﻴْﻧﱡﺪﻟا ِةﺎَﻴَﺤْﻟا َﻞَﺜَﻣ ْﻢُﻬَﻟ ْبِﺮْﺿاَو
ٍ
ءْﻲَﺷ ِّﻞُآ ﻰَﻠَﻋ ُﻪﱠﻠﻟا َنﺎَآَو ُحﺎَﻳِّﺮﻟا ُﻩوُرْﺬَﺗ ﺎًﻤﻴِﺸَهاًرِﺪَﺘْﻘُﻣ
Dan (ingatlah) adalah Allah Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu. (al-Kahfi 18: 45)
ْ
ﻢُﻜِﻠُﺟْرَأ ِﺖْﺤَﺗ ْﻦِﻣ ْوَأ ْﻢُﻜِﻗْﻮَﻓ ْﻦِﻣ ﺎًﺑاَﺬَﻋ ْﻢُﻜْﻴَﻠَﻋ َﺚَﻌْﺒَﻳ ْنَأ ﻰَﻠَﻋ ُرِدﺎَﻘْﻟا َﻮُه ْﻞُﻗ
Katakanlah: “Dia lah Yang berkuasa menghantar kepada kamu azab seksa (bala
bencana), dari sebelah atas kamu, atau dari bawah kaki kamu, (al-An’am 6: 65)
ِ
ﻪِﻌْﺟَر ﻰَﻠَﻋ ُﻪﱠﻧِإٌرِدﺎَﻘَﻟ
Sesungguhnya Allah Maha Kuasa untuk mengembalikannya (hidup semula sesudah
mati), (at-Thariq 86: 8)
6

background image

Dia telah menetapkan sifat qudrah, kuasa untuk melakukan apa saja yang
dikehendakinya, sebagaimana Dia juga menafikan dari Diri-Nya sifat ‘ajz (lemah)
dan lughub (letih).
Allah s.w.t. berfirman:
ِ
ﻣ ُﻩَﺰِﺠْﻌُﻴِﻟ ُﻪﱠﻠﻟا َنﺎَآ ﺎَﻣَو
اًﺮﻳِﺪَﻗ ﺎًﻤﻴِﻠَﻋ َنﺎَآ ُﻪﱠﻧِإ ِضْرﻷا ﻲِﻓ ﻻَو ِتاَوﺎَﻤﱠﺴﻟا ﻲِﻓ ٍءْﻲَﺷ ْﻦ
(sudah tetap) Bahawa kekuasaan Allah tidak dapat dilemahkan atau dihalangi oleh
sesuatupun sama ada di langit atau di bumi; Sesungguhnya ia adalah Maha
Mengetahui, lagi Maha Kuasa. (Fathir 35: 44)
ٍ
بﻮُﻐُﻟ ْﻦِﻣ ﺎَﻨﱠﺴَﻣ ﺎَﻣَو ٍمﺎﱠﻳَأ ِﺔﱠﺘِﺳ ﻲِﻓ ﺎَﻤُﻬَﻨْﻴَﺑ ﺎَﻣَو َضْرﻷاَو ِتاَوﺎَﻤﱠﺴﻟا ﺎَﻨْﻘَﻠَﺧ ْﺪَﻘَﻟَو
Dan Demi sesungguhnya! Kami telah menciptakan langit dan bumi serta Segala Yang
ada di antara keduanya Dalam enam masa, dan Kami tidak mengalami sebarang
susah payah. (Qaff 50: 38)
Dia memiliki qudrah yang mutlak dan sempurna sehingga tidak ada sesuatu pun
yang melemahkan-Nya. Tidaklah ada penciptaan makhluk dan pembangkitan mereka
kembali kecuali bagaikan satu jiwa saja.

ﻧِإ
 ُنﻮُﻜَﻴَﻓ ْﻦُآ ُﻪَﻟ َلﻮُﻘَﻳ ْنَأ ﺎًﺌْﻴَﺷ َداَرَأ اَذِإ ُﻩُﺮْﻣَأ ﺎَﻤ
Sesungguhnya keadaan kekuasaannya apabila ia menghendaki adanya sesuatu,
maka Dia hanyalah berkata: ” Jadilah!”. maka terjadilah ia. (Yasin 36: 82)
Maka seluruh makhluk-Nya, baik yang di atas mahupun yang di bawah,
menunjukkan kesempurnaan qudrah-Nya yang menyeluruh. Tidak ada satu partikel
pun yang keluar dari kekuasaan-Nya. Cukuplah menjadi dalil bagi seorang hamba
manakala ia melihat kepada penciptaan dirinya; bagaimanakah allah
menciptakannya dalam bentuk yang paling baik, membelah baginya pendengaran
dan penglihatannya, menciptakan untuknya sepasang mata, sebuah lisan dan
sepasang bibir? Kemudian apabila ia melayangkan pandangannya ke seluruh jagat
raya ini maka ia akan melihat berbagai keajaiban qudrah-Nya yang menunjukkan
keagungan-Nya.
2 – al-Iradah (Berkehendak) 
 ُﺪﻳِﺮُﻳ ﺎَﻣ ُﻢُﻜْﺤَﻳ َﻪﱠﻠﻟا ﱠنِإ
Sesungguhnya Allah menetapkan hukum apa Yang ia kehendaki. (al-Ma’idah 5: 1)
 ُﺪﻳِﺮُﻳ ﺎَﻣ ُﻞَﻌْﻔَﻳ َﻪﱠﻠﻟا ﱠنِإ
Sesungguhnya Allah melakukan apa Yang dikehendaki-Nya. (al-Hajj 22: 16)
ُ
ﺪﻳِﺮُﻳ ﺎَﻤِﻟ ٌلﺎﱠﻌَﻓ
7

background image

Yang berkuasa melakukan segala yang dikehendaki-Nya. (al-Buruj 85: 16)
ُ
نﻮُﻜَﻴَﻓ ْﻦُآ ُﻪَﻟ َلﻮُﻘَﻳ ْنَأ ﺎًﺌْﻴَﺷ َداَرَأ اَذِإ ُﻩُﺮْﻣَأ ﺎَﻤﱠﻧِإ
Sesungguhnya keadaan kekuasaannya apabila ia menghendaki adanya sesuatu,
maka Dia hanyalah berkata: ” Jadilah!”. maka terjadilah ia. (Yasin 36: 82)
Ayat-ayat ini menetapkan iradah untuk Allah s.w.t. iaitu di antara sifat Allah yang
ditetapkan oleh al-Qur’an dan as-sunnah. Ahlus sunnah wal Jama’ah menyepakati
bahawa iradah itu ada du keadaan:
I – Iradah Kauniyah, sebagaimana yang terdapat di dalam ayat berikut:
 ﺎًﻘِّﻴَﺿ ُﻩَرْﺪَﺻ ْﻞَﻌْﺠَﻳ ُﻪﱠﻠِﻀُﻳ ْنَأ ْدِﺮُﻳ ْﻦَﻣَو ِمﻼْﺳﻺِﻟ ُﻩَرْﺪَﺻ ْحَﺮْﺸَﻳ ُﻪَﻳِﺪﻬَﻳ ْنَأ ُﻪﱠﻠﻟا ِدِﺮُﻳ ْﻦَﻤَﻓ
 َنﻮُﻨِﻣْﺆُﻳ ﻻ َﻦﻳِﺬﱠﻟا ﻰَﻠَﻋ َﺲْﺟِّﺮﻟا ُﻪﱠﻠﻟا ُﻞَﻌْﺠَﻳ َﻚِﻟَﺬَآ ِءﺎَﻤﱠﺴﻟا ﻲِﻓ ُﺪﱠﻌﱠﺼَﻳ ﺎَﻤﱠﻧَﺄَآ ﺎًﺟَﺮَﺣ
Maka sesiapa Yang Allah kehendaki untuk memberi hidayah petunjuk kepadanya
nescaya ia melapangkan dadanya (membuka hatinya) untuk menerima Islam; dan
sesiapa Yang Allah kehendaki untuk menyesatkannya, nescaya ia menjadikan
dadanya sesak sempit sesempit-sempitnya, seolah-olah ia sedang mendaki naik ke
langit (dengan susah payahnya). Demikianlah Allah menimpakan azab kepada
orang-orang Yang tidak beriman. (al-An’am 6: 125)
Iaitu iradah yang menjadi persamaan masyi’ah (kehendak Allah), tidak ada bezanya
antara masyi’ah dan iradah kauniyah.
II – Iradah Syar’iyah, sebagaimana terdapat dalam ayat:
َ
ﺮْﺴُﻌْﻟا ُﻢُﻜِﺑ ُﺪﻳِﺮُﻳ ﻻَو َﺮْﺴُﻴْﻟا ُﻢُﻜِﺑ ُﻪﱠﻠﻟا ُﺪﻳِﺮُﻳ
(dengan ketetapan Yang demikian itu) Allah menghendaki kamu beroleh kemudahan,
dan ia tidak menghendaki kamu menanggung kesukaran. (al-Baqarah 2: 185)
Perbezaan antara keduanya ialah:
– Iradah kauniyah pasti terjadi, sedangkan iradah syar’iyah tidak harus terjadi; iaitu
boleh terjadi, boleh juga tidak.

– Iradah kauniyah meliputi yang baik dan yang buruk, yang bermanfaat dan yang

berbahaya bahkan meliputi segala sesuatu. Sedangkan iradah syar’iyah hanya
terdapat pada yang baik dan yang bermanfaat saja.
– Iradah kauniyah tidak mengharuskan mahabbah (cinta Allah). Terkadang Allah
menghendaki terjadinya sesuatu yang tidak Dia cintai, tetapi dari hal tersebut akan
lahir sesuatu yang dicintai Allah. Seperti penciptaan Iblis dan segala yang jahat
lainnya untuk tujuan ujian dan cubaan. Adapun iradah syar’iyah maka di antara
kesan atau akibatnya adalah mahabbah Allah, kerana Allah tidak menginginkan
dengannya kecuali sesuatu yang dicintai-Nya, seperti taat dan pahala.
8
3 – al-‘Ilmu (Ilmu) 

background image

Allah s.w.t. berfirman:
 ُﻢﻴِﺣﱠﺮﻟا ُﻦَﻤْﺣﱠﺮﻟا َﻮُه ِةَدﺎَﻬﱠﺸﻟاَو ِﺐْﻴَﻐْﻟا ُﻢِﻟﺎَﻋ َﻮُه ﻻِإ َﻪَﻟِإ ﻻ يِﺬﱠﻟا ُﻪﱠﻠﻟا َﻮُه
Dia lah Allah, Yang tidak ada Tuhan melainkan dia; Yang mengetahui perkara Yang
ghaib dan Yang nyata; (al-Hasyr 59: 22)
َ
ﻋ ُبُﺰْﻌَﻳ ﻻ ِﺐْﻴَﻐْﻟا ِﻢِﻟﺎَﻋ
ِ
ضْرﻷا ﻲِﻓ ﻻَو ِتاَوﺎَﻤﱠﺴﻟا ﻲِﻓ ٍةﱠرَذ ُلﺎَﻘْﺜِﻣ ُﻪْﻨ
Demi Tuhanku yang mengetahui segala perkara yang ghaibdan yang nyata. Tiada
tersembunyi dari pengetahuan-Nya barang seberat zarrah pun yang ada di langit
atau di bumi… (Saba’: 3)
 َﻪﱠﻠﻟا ﱠنِإ
 َنﻮُﻠَﻤْﻌَﺗ ﺎَﻤِﺑ ٌﺮﻴِﺼَﺑ ُﻪﱠﻠﻟاَو ِضْرﻷاَو ِتاَوﺎَﻤﱠﺴﻟا َﺐْﻴَﻏ ُﻢَﻠْﻌَﻳ
“Sesungguhnya Allah mengetahui Segala rahsia langit dan bumi, dan Allah Maha
melihat akan Segala Yang kamu kerjakan”. (al-Hujuraat 49: 18)
Yang dimaksudkan dengan yang ghaib adalah yang tidak diketahui manusia, tetapi
Allah mengetahuinya.
ِ
ءﺎَﻤﱠﺴﻟا ﻲِﻓ ﻻَو ِضْرﻷا ﻲِﻓ ٌءْﻲَﺷ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ﻰَﻔْﺨَﻳ ﻻ َﻪﱠﻠﻟا ﱠنِإ
Sesungguhnya Allah tidak tersembunyi kepadanya sesuatu pun Yang ada di bumi
dan juga Yang ada di langit. (Ali Imran 3: 5)
Yang dimaksudkan dengan syahadah adalah apa yang disaksikan dan dilihat oleh
manusia.
Allah s.w.t. berfirman:
ِ
ﻪِﻤْﻠِﻋ ْﻦِﻣ ٍءْﻲَﺸِﺑ َنﻮُﻄﻴِﺤُﻳ ﻻَو
sedang mereka tidak mengetahui sesuatu pun dari (kandungan) ilmu Allah
melainkan apa Yang Allah kehendaki… (al-Baqarah 2: 255)
 َنﻮُﻤَﻠْﻌَﺗ ﻻ ْﻢُﺘْﻧَأَو ُﻢَﻠْﻌَﻳ َﻪﱠﻠﻟا ﱠنِإ َلﺎَﺜْﻣﻷا ِﻪﱠﻠِﻟ اﻮُﺑِﺮْﻀَﺗ ﻼَﻓ
Oleh itu, janganlah kamu mengadakan sesuatu Yang sebanding Dengan Allah,
kerana Sesungguhnya Allah mengetahui (setakat mana buruknya perbuatan syirik
kamu) sedang kamu tidak mengetahuinya. (an-Nahl 16: 74)
Di antara dalil yang menunjukkan atas ilmu-Nya yang luas adalah firman Allah
s.w.t.:
ً
ﻤْﻠِﻋ ٍءْﻲَﺷ ِّﻞُﻜِﺑ َطﺎَﺣَأ ْﺪَﻗ َﻪﱠﻠﻟا ﱠنَأَو ٌﺮﻳِﺪَﻗ ٍءْﻲَﺷ ِّﻞُآ ﻰَﻠَﻋ َﻪﱠﻠﻟا ﱠنَأ اﻮُﻤَﻠْﻌَﺘِﻟ
9

background image

 

Permusuhan Yahudi Terhadap Islam Dalam Sejarah

Kategori: Manhaj, Sejarah Islam

136 Komentar // 8 Januari 2009

Permusuhan Yahudi terhadap Islam sudah terkenal dan ada sejak dahulu kala. Dimulai sejak dakwah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan mungkin juga sebelumnya bahkan sebelum kelahiran beliau. Hal ini mereka lakukan karena khawatir dari pengaruh dakwah islam yang akan menghancurkan impian dan rencana mereka. Namun dewasa ini banyak usaha menciptakan opini bahwa permusuhan yahudi dan islam hanyalah sekedar perebutan tanah dan perbatasan Palestina dan wilayah sekitarnya, bukan permasalahan agama dan sejarah kelam permusuhan yang mengakar dalam diri mereka terhadap agama yang mulia ini.

 

Padahal pertarungan kita dengan Yahudi adalah pertarungan eksistensi, bukan persengkataan perbatasan. Musuh-musuh islam dan para pengikutnya yang bodoh terus berupaya membentuk opini bahwa hakekat pertarungan dengan Yahudi adalah sebatas pertarungan memperebutkan wilayah, persoalan pengungsi dan persoalan air. Dan bahwa persengketaan ini bisa berakhir dengan (diciptakannya suasana) hidup berdampingan secara damai, saling tukar pengungsi, perbaikan tingkat hidup masing-masing, penempatan wilayah tinggal mereka secara terpisah-pisah dan mendirikan sebuah Negara sekuler kecil yang lemah dibawah tekanan ujung-ujung tombak zionisme, yang kesemua itu (justeru) menjadi pagar-pagar pengaman bagi Negara zionis. Mereka semua tidak mengerti bahwa pertarungan kita dengan Yahudi adalah pertarungan lama semenjak berdirinya Negara islam diMadinah dibawah kepemimpinan utusan Allah bagi alam semesta yaitu Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam

Demikianlah permusuhan dan usaha mereka merusak Islam sejak berdirinya Negara islam bahkan sejak Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam hijrah ke Madinah sampai saat ini dan akan berlanjut terus. Walaupun tidak tertutup kemungkinan mereka punya usaha dan upaya memberantas islam sejak kelahiran beliau n . hal ini dapat dilihat dalam pernyataan pendeta Buhairoh terhadap Abu Thalib dalam perjalanan dagang bersama beliau diwaktu kecil. Allah Ta’ala telah jelas-jelas menerangkan permusuhan Yahudi dalam firmanNya:

Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. (Qs. 5:82)

Melihat demikian panjangnya sejarah dan banyaknya bentuk permusuhan Yahudi terhadap Islam dan Negara Islam, maka kami ringkas dalam 3 marhalah;

Marhalah pertama:
Upaya Yahudi dalam menghalangi dakwah Islam di masa awal perkembangan dakwah islam dan cara mereka dalam hal ini.

Diantara upaya Yahudi dalam menghalangi dakwah Islam di masa-masa awal perkembangannya adalah:

  1. Pemboikotan (embargo) Ekonomi: Kaum muslimin ketika awal perkembangan islam di Madinah sangat lemah perekonomiannya. Kaum muhajirin datang ke Madinah tidak membawa harta mereka dan kaum Anshor yang menolong mereka pun bukanlah pemegang perekonomian Madinah. Oleh karena itu Yahudi menggunakan kesempatan ini untuk menjauhkan kaum muslimin dari agama mereka dan melakukan embargo ekonomi. Para pemimpin Yahudi enggan membantu perekonomian kaum muslimin dan ini terjadi ketika Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam mengutus Abu Bakar menemui para pemimpin Yahudi untuk meminjam dari mereka harta yang digunakan untuk membantu urusan beliau dan berwasiat untuk tidak berkata kasar dan tidak menyakiti mereka bila mereka tidak memberinya. Ketika Abu Bakar masuk Bait Al Midras (tempat ibadah mereka) mendapati mereka sedang berkumpul dipimpin oleh Fanhaash –tokoh besar bani Qainuqa’- yang merupakan salah satu ulama besar mereka didampingi seorang pendeta yahudi bernama Asy-ya’. Setelah Abu Bakar menyampaikan apa yang dibawanya dan memberikan surat Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam kepadanya. Maka ia membaca sampai habis dan berkata: Robb kalian butuh kami bantu! Tidak hanya sampai disini saja, bahkan merekapun enggan menunaikan kewajiban yang harus mereka bayar, seperti hutang, jual beli dan amanah kepada kaum muslimin. Berdalih bahwa hutang, jual beli dan amanah tersebut adanya sebelum islam dan masuknya mereka dalam islam menghapus itu semua. Oleh karena itu Allah berfirman:Di antara Ahli Kitab ada orang yang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak, dikembalikannya kepadamu; dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu dinar, tidak dikembalikannya kepadamu, kecuali jika kamu selalu menagihnya. Yang demikian itu lantaranmereka mengatakan:”Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi. Mereka berkata dusta terhadap Allah, padahal mereka mengetahui. (Qs. 3:75)
  2. Membangkitkan fitnah dan kebencian: Yahudi dalam upaya menghalangi dakwah islam menggunakan upaya menciptakan fitnah dan kebencian antar sesama kaum muslimin yang pernah ada di hati penduduk Madinah dari Aus dan Khodzraj pada masa jahiliyah. Sebagian orang yang baru masuk islam menerima ajakan Yahudi, namun dapat dipadamkan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam . diantaranya adalah kisah yang dibawakan Ibnu Hisyam dalam Siroh Ibnu Hisyam (2/588) ringkas kisahnya: Seorang Yahudi bernama Syaas bin Qais mengutus seorang pemuda Yahudi untuk duduk dan bermajlis bareng dengan kaum Anshor, kemudian mengingatkan mereka tentang kejadian perang Bu’ats hingga terjadi pertengkaran dan mereka keluar membawa senjata-senjata masing-masing. Lalu hal ini sampai pada Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam. maka beliau shallallahu ’alaihi wa sallam segera berangkat bersama para sahabat muhajirin menemui mereka dan bersabda:يَا مَعْشَر المُسْلِمِيْنَ اللهَ اللهَ أَبِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ وَ أَنَا بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ بَعْدَ أَنْ هَدَاكُمُ اللهُ لِلإِسْلاَمِ وَ أَكْرَمَكُمْ بِهِ وَ قَطَعَ بِهِ أَمْرَ الْجَاهِلِيَّةِ وَاسْتَنْقَذَكُمْ بِهِ مِنَ الْكُفْرِ وَ أَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ “Wahai kaum muslimin alangkah keterlaluannya kalian, apakah (kalian mengangkat) dakwah jahiliyah padahal aku ada diantara kalian setelah Allah tunjuki kalian kepada Islam dan muliakan kalian, memutus perkara Jahiliyah dan menyelamatkan kalian dari kekufuran dengan Islam serta menyatukan hati-hati kalian.” Lalu mereka sadar ini adalah godaan syetan dan tipu daya musuh mereka, sehingga mereka mengangis dan saling rangkul antara Aus dan Khodzroj. Lalu mereka pergi bersama Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dengan patuh dan taat yang penuh. Lalu Allah turunkan firmanNya: Katakanlah: ”Hai Ahli Kitab, mengapa kamu ingkari ayat-ayat Allah, padahal Allah Maha Menyaksikan apa yang kamu kerjakan. Katakanlah:”Hai Ahli Kitab, mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan Allah orang-orang yang telah beriman, kamu menghendakinya menjadi bengkok, padahal kamu menyaksikan.” Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan. (Qs. 3:99)
  3. Menyebarkan keraguan pada diri kaum muslimin: Orang Yahudi berusaha memasukkan keraguan di hati kaum muslimin yang masih lemah imannya dengan melontarkan syubhat-syubhat yang dapat menggoyahkan kepercayaan mereka terhadap islam. Hal ini dijelaskan Allah dalam firmanNya: Segolongan (lain) dari Ahli Kitab berkata (kepada sesamanya): “Perlihatkanlah (seolah-olah) kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang mu’min) kembali (kepada kekafiran). (Qs. 3:72). Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini dengan pernyataan: Ini adalah tipu daya yang mereka inginkan untuk merancukan perkara agama islam kepada orang-orang yang lemah imannya. Mereka sepakat menampakkan keimanan di pagi hari (permulaan siang) dan sholat subuh bersama kaum muslimin. Lalu ketika diakhir siang hari (sore hari) mereka murtad dari agama Islam agar orang-orang bodoh menyatakan bahwa mereka keluat tidak lain karena adanya kekurangan dan aib dalam agama kaum muslimin.
  4. Memata-matai kaum Muslimin: Ibnu Hisyam menjelaskan adanya sejumlah orang Yahudi yang memeluk Islam untuk memata-matai kaum muslimin dan menukilkan berita Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan yang ingin beliau lakukan kepada orang Yahudi dan kaum musyrikin, diantaranya: Sa’ad bin Hanief, Zaid bin Al Lishthi, Nu’maan bin Aufa bin Amru dan Utsmaan bin Aufa serta Rafi’ bin Huraimila’. Untuk menghancurkan tipu daya ini Allah berfirman:Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaan orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata:”Kami beriman”; dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka):”Marilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati. (Qs. 3:118-119)
  5. Usaha memfitnah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam: Orang Yahudi tidak pernah henti berusaha memfitnah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, diantaranya adalah kisah yang disampaikan Ibnu Ishaaq bahwa beliau berkata: Ka’ab bin Asad, Ibnu Shaluba, Abdullah bin Shurie dan Syaas bin Qais saling berembuk dan menghasilkan keputusan berangkat menemui Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam untuk memfitnah agama beliau. Lalu mereka menemui Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan berkata: Wahai Muhammad engkau telah tahu kami adalah ulama dan tokoh terhormat serta pemimpin besar Yahudi, Apabila kami mengikutimu maka seluruh Yahudi akan ikut dan tidak akan menyelisihi kami. Sungguh antara kami dan sebagian kaum kami terjadi persengketaan. Apakah boleh kami berhukum kepadamu lalu engkau adili dengan memenangkan kami atas mereka? Maka Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam enggan menerimanya. Lalu turunlah firman Allah: Dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kemu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati. hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. (Qs. 5:49)

Semua usaha mereka ini gagal total dihadapan Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan Allah membalas makar mereka ini dengan menimpakan kepada mereka kerendahan dan kehinaan.

Marhalah kedua:
Masa perang senjata antara Yahudi dan Muslimin di zaman Rasulullah
shallallahu ’alaihi wa sallam.

Orang Yahudi tidak cukup hanya membuat keonaran dan fitnah kepada kaum muslimin semata bahkan merekapun menampakkan diri bergabung dengan kaum musyrikin dengan menyatakan permusuhan yang terang-terangan terhadap islam dan kaum muslimin. Namun Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam tetap menunggu sampai mereka melanggar dan membatalkan perjanjian yang pernah dibuat diMadinah. Ketika mereka melanggar perjanjian tersebut barulah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam melakukan tindakan militer untuk menghadapi mereka dan mengambil beberapa keputusan untuk memberikan pelajaran kepada mereka. Diantara keputusan penting tersebut adalah:

  1. Pengusiran Bani Qainuqa’
  2. Pengusiran bani Al Nadhir
  3. Perang Bani Quraidzoh
  4. Penaklukan kota Khaibar

Setelah terjadinya hal tersebut maka orang Yahudi terusir dari jazirah Arab.

Marhalah ketiga:
Tipu daya dan makar mereka terhadap islam setelah wafat Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam.

Orang Yahudi memandang tidak mungkin melawan Islam dan kaum muslimin selama Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam masih hidup. Ketika Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam wafat, orang Yahudi melihat adanya kesempatan untuk membuat makar kembali terhadap Islam dan muslimin. Mereka mulai merencanakan dan menjalankan tipu daya mereka untuk memalingkan kaum muslimin dari agamanya. Namun tentunya mereka lakukan dengan lebih baik dan teliti dibanding sebelumnya. Sebagian target mereka telah terwujud dengan beberapa sebab diantaranya:

  1. Kaum muslimin kehilangan Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam.
  2. Orang Yahudi dapat mengambil pelajaran dan pengalaman dari usaha-usaha mereka terdahulu sehingga dapat menambah hebat makar dan tipu daya mereka.
  3. Masuknya sebagian orang Yahudi ke dalam Islam dengan tujuan memata-matai kaum muslimin dan merusak mereka dari dalam tubuh kaum muslimin.

Memang berbicara tentang tipu daya dan makar Yahudi kepada kaum Muslimin sejak wafat Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam hingga kini membutuhkan pembahasan yang panjang sekali. Namun rasanya cukup memberikan 3 contoh kejadian besar dalam sejarah Islam untuk mengungkapkan permasalahan ini. Yaitu:

  1. Fitnah pembunuhan khalifah UtsmanIni adalah awal keberhasilan Yahudi dalam menyusup dan merusak Islam dan kaum muslimin. Tokoh yahudi yang bertanggung jawab terjadinya peristiwa ini adalah Abdullah bin Saba’ yang dikenal dengan Ibnu Sauda’. Kisahnya cukup masyhur dan ditulis dalam kitab-kitab sejarah Islam.
  2. Fitnah Maimun Al Qadaah dan perkembangan sekte Bathiniyah. Keberhasilan Abdullah bin Saba’ membuat fitnah di kalangan kaum Muslimin dan mengajarkan saba’isme membuat orang Yahudi semakin berani. Sehingga belum habis fitnah Sabaiyah mereka sudah memunculkan tipu daya baru yang dipimpin seorang Yahudi bernama Maimun bin Dieshaan Al Qadaah dengan membuat sekte Batiniyah di Kufah tahun 276 H. Imam Al Baghdadi menceritakan: Diatara orang yang membangun sekte Bathiniyah adalah Maimun bin Dieshaan yang dikenal dengan Al Qadaah seorang maula bagi Ja’far bin Muhammad Al Shodiq yang berasal dari daerah Al Ahwaaz dan Muhammad bin Al Husein yang dikenal dengan Dandaan. Mereka berkumpul bersama Maimun Al Qadah di penjara Iraaq lalu membangun sekte Bathiniyah.Tipu daya Yahudi ini terus berjalan dalam bentuk yang beraneka ragam sehingga sekte ini berkembang menjadi banyak sekali sektenya dalam kaum muslimin, sampai-sampai menghalalkan pernikahan sesama mahrom dan hilangnya kewajiban syariat pada seseorang.
  3. Penghancuran kekhilafahan Turki Utsmani ditangan gerakan Masoniyah dan akibat yang ditimbulkan berupa perpecahan kaum muslimin.Orang Yahudi mengetahui sumber kekuatan kaum muslimin adaalh bersatunya mereka dibawah satu kepemimpinan dalam naungan kekhilafahan Islamiyah. Oleh karena mereka segera berusaha keras meruntuhkan kekhilafahan yang ada sejak zaman Khulafa’ Rasyidin sampai berhasil menghapus dan meruntuhkan negara Turki Utsmaniyah. Orang Yahudi memulai konspirasinya dalam meruntuhkan Negara Turki Utsmaniyah pada masa sultan Murad kedua (tahun 834-855H) dan setelah beliau pada masa sultan Muhammad Al Faatih (tahun 855-886H) yang meningal diracun oleh Thobib beliau seorang Yahudi bernama Ya’qub Basya. Demikian juga berhasil membunuh Sultan Sulaiman Al Qanuni (tahun 926-974H) dan para cucunya yang diatur oleh seorang Yahudi bernama Nurbaanu. Konspirasi Yahudi ini terus berlangsung di masa kekhilafahan Utsmaniyah lebih dari 400 tahunan hingga runtuhnya di tangan Mushthofa Ataturk.

Orang Yahudi dalam menjalankan rencana tipu daya mereka menggunakan kekuatan berikut ini:

  1. Yahudi Al Dunamah. Diantara tokohnya adalah Madhaat Basya dan Mushthofa Kamal Ataturk yang memiliki peran besar dan penting dalam penghancuran kekhilafahan Utsmaniyah.
  2. Salibis Eropa yang sangat membenci islam dan kaum muslimin dengan melakukan perjanjian kerjasama dengan beberapa Negara eropa yaitu Bulgaria, Rumania, Namsa, Prancis, Rusia, Yunani dan Italia.
  3. Organisasi bawah tanah/rahasia, khususnya Masoniyah yang terus berusaha merealisasikan tujuan dan target Zionis.

Usaha-usaha Musthofa Kamal Basya Ataturk dalam menghancurkan kekhilafahan setelah berhasil menyingkirkan sultan Abdulhamid kedua adalah:

  1. Pada awal November 1922 M ia menghapus kesultanan dan membiarkan kekhilafahan
  2. Pada tanggal 18 November 1922M ia mencopot Wahieduddin Muhammad keenam dari kekhilafahan.
  3. Pada Agustus 1923 M ia mendirikan Hizb Al Sya’b Al Jumhuriah (Partai Rakyat Republik) dengan tokoh-tokoh pentingnya kebanyakan dari Yahudi Al Dunamah dan Masoniyah.
  4. Pada tanggal 20 oktober 1923 M Republik Turki diresmikan dan Al Jum’iyah Al Wathoniyah (Organisasi nasional) memilih Musthofa Kamal sebagai presiden Turki.
  5. Pada tanggal 2 Maret 1924 M Kekhilafahan dihapus total.

Demikianlah sempurna sudah keinginan orang-orang Yahudi untuk menjadikan kekhilafahan sebagai Negara sekuler yang dipimpin seorang Yahudi yang berkedok muslim.

Mudah-mudahan ringkas sejarah permusuhan Yahudi ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan dapat menjadi pelajaran bagi kaum muslimin

 

Dari artikel Permusuhan Yahudi Terhadap Islam Dalam Sejarah — Muslim.Or.Id by null

 

Empat Kaidah Utama Dalam Memahami Tauhid

Kategori: Aqidah, Manhaj

3 Komentar // 15 Juni 2008

Aku memohon kepada Allah Al Karim Rabb pemilik Arsy yang agung semoga Dia melindungimu di dunia dan di akhirat. Aku juga memohon kepada-Nya supaya menjadikan dirimu diberkahi di manapun kamu berada. Aku juga memohon kepada-Nya supaya menjadikan dirimu termasuk di antara orang-orang yang bersyukur apabila diberi kenikmatan, bersabar ketika tertimpa cobaan, dan meminta ampunan tatkala terjerumus dalam perbuatan dosa, karena ketiga hal itulah tonggak kebahagiaan.

Ketahuilah, semoga Allah membimbingmu untuk taat kepada-Nya, Al Hanifiyah yaitu agama yang diajarkan oleh Ibrahim ialah beribadah kepada Allah semata dengan mengikhlaskan agama (amal) untuk-Nya. Itulah perintah yang Allah berikan kepada segenap umat manusia dan hikmah penciptaan mereka.

Sebagaimana dinyatakan oleh firman Allah ta’ala (yang artinya), “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat [51]: 56). Apabila kamu telah menyadari bahwa kamu diciptakan untuk beribadah kepada-Nya, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya suatu ibadah tidaklah dianggap bernilai ibadah kecuali apabila disertai dengan tauhid. Sebagaimana halnya shalat yang tidak bisa disebut shalat apabila tidak disertai dengan thaharah (keadaan suci pada diri pelakunya, pen). Maka apabila syirik menyusupi suatu ibadah, niscaya ibadah itu menjadi rusak. Sebagaimana apabila ada hadats yang muncul pada diri orang yang sudah bersuci.

Apabila kamu sudah mengerti ternyata syirik itu apabila menyusupi ibadah akan menghancurkan ibadah tersebut dan menghapuskan amal, bahkan orang yang melakukannya menjadi tergolong penghuni kekal neraka, maka kini kamu pun telah mengerti bahwa perkara terpenting bagimu adalah memahami seluk beluknya. Mudah-mudahan Allah menyelamatkan dirimu dari jebakan perangkap ini; yaitu kesyirikan terhadap Allah. Allah ta’ala berfirman tentang syirik ini (yang artinya), “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia akan mengampuni dosa di bawah tingkatan syirik yaitu bagi orang-orang yang dikehendaki-Nya.” (QS. An Nisaa’ [4]: 48). Dan hal itu akan mudah kamu mengerti dengan mempelajari empat buah kaidah yang disebutkan oleh Allah ta’ala di dalam kitab-Nya:

Kaidah Pertama

Hendaknya kamu mengerti bahwa orang-orang kafir yang diperangi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengakui Allah ta’ala sebagai pencipta dan pengatur segala urusan. Sedangkan pengakuan mereka ini tidaklah membuat mereka tergolong orang Islam. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala (yang artinya), “Katakanlah, Siapakah yang memberikan rezeki kepada kalian dari langit dan bumi. Atau siapakah yang kuasa menciptakan pendengaran dan penglihatan. Dan siapakah yang mampu mengeluarkan yang hidup dari yang mati serta mengeluarkan yang mati dari yang hidup. Dan siapakah yang mengatur segala urusan, maka pasti mereka akan menjawab, ‘Allah’. Maka katakanlah, ‘Lantas mengapa kalian tidak mau bertakwa?’.” (QS. Yunus [10]: 31)

Kaidah Kedua

Orang-orang musyrik tersebut mengatakan, “Kami tidaklah berdoa kepada mereka (sesembahan selain Allah, pen) dan bertawajjuh (menggantungkan harapan) kepada mereka melainkan hanya dalam rangka mencari kedekatan diri (di sisi Allah, pen) dan untuk mendapatkan syafa’at.”

Dalil yang menunjukkan bahwa mereka bertujuan mencari kedekatan diri adalah firman Allah ta’ala (yang artinya), “Dan orang-orang yang mengangkat selain-Nya sebagai penolong (sesembahan, pen) beralasan, ‘Kami tidaklah beribadah kepada mereka kecuali karena bermaksud agar mereka bisa mendekatkan diri kami kepada Allah sedekat-dekatnya.’ Sesungguhnya Allah pasti akan memberikan keputusan di antara mereka terhadap perkara yang mereka perselisihkan itu. Sesungguhnya Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang yang gemar berdusta dan suka berbuat kekafiran.” (QS. Az Zumar [39]: 3)

Adapun dalil yang menunjukkan bahwa mereka juga mengharapkan syafaat dengan kesyirikan yang mereka perbuat adalah firman Allah ta’ala (yang artinya), “Dan mereka beribadah kepada selain Allah; sesuatu yang sama sekali tidak mendatangkan bahaya untuk mereka dan tidak pula menguasai manfaat bagi mereka. Orang-orang itu beralasan, ‘Mereka adalah para pemberi syafa’at bagi kami di sisi Allah kelak.’.” (QS. Yunus [10]: 18)

Syafa’at ada dua macam:

Syafa’at yang ditolak dan syafa’at yang ditetapkan.

  1. Syafa’at yang ditolak adalah syafa’at yang diminta kepada selain Allah dalam urusan yang hanya dikuasai oleh Allah. Dalil tentang hal ini adalah firman Allah ta’ala (yang artinya), “Wahai orang-orang yang beriman, belanjakanlah sebagian rezeki yang Kami berikan kepada kalian sebelum tiba suatu hari yang pada saat itu tidak ada lagi jual beli, persahabatan, dan syafa’at. Sedangkan orang-orang kafir, mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al Baqarah [2]: 254)
  2. Syafa’at yang ditetapkan adalah syafa’at yang diminta kepada Allah. Orang yang diperkenankan memberikan syafa’at berarti mendapatkan pemuliaan dari Allah dengan syafa’at tersebut. Adapun orang yang akan diberi syafa’at adalah orang yang ucapan dan perbuatannya diridhai Allah, dan hal itu akan terjadi setelah mendapatkan izin (dari Allah, pen). Hal ini sebagaimana difirmankan Allah ta’ala (yang artinya), “Lalu siapakah yang bisa memberikan syafa’at di sisi-Nya kecuali dengan izin-Nya?”. (QS. Al Baqarah [2]: 255)

Kaidah Ketiga

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam muncul di tengah-tengah masyarakat yang memiliki peribadatan yang beraneka ragam. Di antara mereka ada yang beribadah kepada malaikat. Ada pula yang beribadah kepada para nabi dan orang-orang saleh. Ada juga di antara mereka yang beribadah kepada pohon danbatu. Dan ada pula yang beribadah kepada matahari dan bulan. Mereka semua sama-sama diperangi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa sedikitpun membeda-bedakan di antara mereka. Dalil tentang hal ini adalah firman Allah ta’ala (yang artinya), “Dan perangilah mereka semua hingga tidak ada lagi fitnah (syirik) dan agama (amal) semuanya hanya diperuntukkan kepada Allah.” (QS. Al Anfaal [8]: 39)

Dalil yang menunjukkan adanya peribadatan kepada matahari dan bulan adalah firman-Nya (yang artinya), “Di antara tanda-tanda kebesaran-Nya adalah malam dan siang, matahari dan bulan, maka janganlah kamu sujud kepada matahari ataupun bulan. Akan tetapi sujudlah kamu kepada Allah yang menciptakan itu semua, jika kamu benar-benar beribadah hanya kepada-Nya.” (QS. Fushshilat [41]: 37)

Dalil yang menunjukkan adanya peribadatan kepada para malaikat adalah firman Allah ta’ala (yang artinya), “Dan Allah tidak menyuruh kamu untuk mengangkat para malaikat dan nabi-nabi sebagai sesembahan.” (QS. Al ‘Imran [3]: 80)

Dalil yang menunjukkan adanya peribadatan kepada para nabi adalah firman-Nya yang artinya, “Ingatlah ketika Allah berfirman, ‘Wahai Isa putera Maryam, apakah kamu mengatakan kepada manusia: Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua sosok sesembahan selain Allah’? Maka Isa berkata, ‘Maha Suci Engkau ya Allah, tidak pantas bagiku untuk berucap sesuatu yang bukan menjadi hakku. Apabila aku mengucapkannya tentunya Engkau pasti mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada dalam diriku, dan aku sama sekali tidak mengetahui apa yang ada di dalam diri-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui hal-hal yang gaib.’.” (QS. Al Maa’idah [5]: 116)

Dalil yang menunjukkan adanya peribadatan kepada orang-orang salih adalah firman-Nya Yang Maha Tinggi (yang artinya), “Sosok-sosok yang mereka seru justru mencari wasilah kepada Rabb mereka; siapakah di antara mereka yang lebih dekat, dan mereka juga sangat mengharapkan curahan rahmat-Nya dan merasa takut dari azab-Nya.” (QS. Al Israa’ [17]: 57)

Dalil yang menunjukkan adanya peribadatan kepada pohon dan batu adalah firman-Nya Yang Maha Tinggi (yang artinya), “Kabarkanlah kepada-Ku tentang Latta, ‘Uzza, dan juga Manat yaitu sesembahan lain yang ketiga.” (QS. An Najm [53]: 19-20). Demikian juga ditunjukkan oleh hadits Abu Waqid Al Laitsi radhiyallahu’anhu. Beliau menuturkan, “Ketika kami berangkat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju Hunain. Ketika itu kami masih dalam keadaan baru keluar dari agama kekafiran. Orang-orang musyrik ketika itu memiliki sebatang pohon yang mereka jadikan sebagai tempat i’tikaf dan tempat khusus untuk menggantungkan senjata-senjata mereka. Pohon itu disebut Dzatu Anwath. Ketika itu, kami melewati pohon tersebut. Lalu kami berkata, ‘Wahai Rasulullah, buatkanlah untuk kami sebatang Dzatu Anwath seperti Dzatu Anwath yang mereka miliki.’.” (HR. Tirmidzi [2181], Ahmad dalam Musnadnya [5/218]. Tirmidzi mengatakan: hadits hasan sahih)

Kaidah Keempat

Orang-orang musyrik pada masa kita justru lebih parah kesyirikannya daripada orang-orang musyrik zaman dahulu. Sebab orang-orang terdahulu hanya berbuat syirik di kala lapang dan beribadah (berdoa) dengan ikhlas di kala sempit. Adapun orang-orang musyrik di masa kita melakukan syirik secara terus menerus, baik ketika lapang ataupun ketika terjepit. Dalil yang menunjukkan hal ini adalah firman Allah ta’ala (yang artinya), “Apabila mereka sudah naik di atas kapal (dan diterpa ombak yang hebat, pen) maka mereka pun menyeru (berdoa) kepada Allah dengan penuh ikhlas mempersembahkan amalnya. Namun setelah Allah selamatkan mereka ke daratan, tiba-tiba mereka kembali berbuat kesyirikan.” (QS. Al ‘Ankabuut [29]: 65)

Selesai, semoga shalawat dan doa keselamatan senantiasa tercurah kepada Muhammad, segenap pengikutnya, dan terutama para sahabatnya.

***

 

Dari artikel Empat Kaidah Utama Dalam Memahami Tauhid — Muslim.Or.Id by null

 

Fiqih Qurban

Kategori: Fiqh dan Muamalah

85 Komentar // 24 November 2008

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya, Maka shalatlah untuk Rabbmu dan sembelihlah hewan.” (QS. Al Kautsar: 2). Syaikh Abdullah Alu Bassaam mengatakan, “Sebagian ulama ahli tafsir mengatakan; Yang dimaksud dengan menyembelih hewan adalah menyembelih hewan qurban setelah shalat Ied.” Pendapat ini dinukilkan dari Qatadah, Atha’ dan Ikrimah (Taisirul ‘Allaam, 534 Taudhihul Ahkaam, IV/450. Lihat juga Shahih Fiqih Sunnah II/366). Dalam istilah ilmu fiqih hewan qurban biasa disebut dengan nama Al Udh-hiyah yang bentuk jamaknya Al Adhaahi (dengan huruf ha’ tipis)

Pengertian Udh-hiyah

Udh-hiyah adalah hewan ternak yang disembelih pada hari Iedul Adha dan hari Tasyriq dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah karena datangnya hari raya tersebut (lihat Al Wajiz, 405 dan Shahih Fiqih Sunnah II/366)

 

Keutamaan Qurban

Menyembelih qurban termasuk amal salih yang paling utama. Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu’anha menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah anak Adam melakukan suatu amalan pada hari Nahr (Iedul Adha) yang lebih dicintai oleh Allah melebihi mengalirkan darah (qurban), maka hendaknya kalian merasa senang karenanya.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Hakim dengan sanad sahih, lihat Taudhihul Ahkam, IV/450)

Hadis di atas didhaifkan oleh Syaikh Al Albani (dhaif Ibn Majah, 671). Namun kegoncangan hadis di atas tidaklah menyebabkan hilangnya keutamaan berqurban. Banyak ulama menjelaskan bahwa menyembelih hewan qurban pada hari idul Adlha lebih utama dari pada sedekah yang senilai atau harga hewan qurban atau bahkan sedekah yang lebih banyak dari pada nilai hewan qurban. Karena maksud terpenting dalam berqurban adalah mendekatkan diri kepada Allah. Disamping itu, menyembelih qurban lebih menampakkan syi’ar islam dan lebih sesuai dengan sunnah. (lih. Shahih Fiqh Sunnah 2/379 & Syarhul Mumthi’ 7/521)

Hukum Qurban

Dalam hal ini para ulama terbagi dalam dua pendapat:

Pertama, wajib bagi orang yang berkelapangan. Ulama yang berpendapat demikian adalah Rabi’ah (guru Imam Malik), Al Auza’i, Abu Hanifah, Imam Ahmad dalam salah satu pendapatnya, Laits bin Sa’ad serta sebagian ulama pengikut Imam Malik, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahumullah. Syaikh Ibn Utsaimin mengatakan: “Pendapat yang menyatakan wajib itu tampak lebih kuat dari pada pendapat yang menyatakan tidak wajib. Akan tetapi hal itu hanya diwajibkan bagi yang mampu…” (lih. Syarhul Mumti’, III/408) Diantara dalilnya adalah hadits Abu Hurairah yang menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang berkelapangan (harta) namun tidak mau berqurban maka jangan sekali-kali mendekati tempat shalat kami.” (HR. Ibnu Majah 3123, Al Hakim 7672 dan dihasankan oleh Syaikh Al Albani)

Pendapat kedua menyatakan Sunnah Mu’akkadah (ditekankan). Dan ini adalah pendapat mayoritas ulama yaitu Malik, Syafi’i, Ahmad, Ibnu Hazm dan lain-lain. Ulama yang mengambil pendapat ini berdalil dengan riwayat dari Abu Mas’ud Al Anshari radhiyallahu ‘anhu. Beliau mengatakan, “Sesungguhnya aku sedang tidak akan berqurban. Padahal aku adalah orang yang berkelapangan. Itu kulakukan karena aku khawatir kalau-kalau tetanggaku mengira qurban itu adalah wajib bagiku.” (HR. Abdur Razzaq dan Baihaqi dengan sanad shahih). Demikian pula dikatakan oleh Abu Sarihah, “Aku melihat Abu Bakar dan Umar sementara mereka berdua tidak berqurban.” (HR. Abdur Razzaaq dan Baihaqi, sanadnya shahih) Ibnu Hazm berkata, “Tidak ada riwayat sahih dari seorang sahabatpun yang menyatakan bahwa qurban itu wajib.” (lihat Shahih Fiqih Sunnah, II/367-368, Taudhihul Ahkaam, IV/454)

Dalil-dalil di atas merupakan dalil pokok yang digunakan masing-masing pendapat. Jika dijabarkan semuanya menunjukkan masing-masing pendapat sama kuat. Sebagian ulama memberikan jalan keluar dari perselisihan dengan menasehatkan: “…selayaknya bagi mereka yang mampu, tidak meninggalkan berqurban. Karena dengan berqurban akan lebih menenangkan hati dan melepaskan tanggungan, wallahu a’lam.” (Tafsir Adwa’ul Bayan, 1120)

Yakinlah…! bagi mereka yang berqurban, Allah akan segera memberikan ganti biaya qurban yang dia keluarkan. Karena setiap pagi Allah mengutus dua malaikat, yang satu berdo’a: “Yaa Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfaq.” Dan yang kedua berdo’a: “Yaa Allah, berikanlah kehancuran bagi orang yang menahan hartanya (pelit).” (HR. Al Bukhari 1374 & Muslim 1010).

Hewan yang Boleh Digunakan Untuk Qurban

Hewan qurban hanya boleh dari kalangan Bahiimatul Al An’aam (hewan ternak tertentu) yaitu onta, sapi atau kambing dan tidak boleh selain itu. Bahkan sekelompok ulama menukilkan adanya ijma’ (kesepakatan) bahwasanya qurban tidak sah kecuali dengan hewan-hewan tersebut (lihat Shahih Fiqih Sunnah, II/369 dan Al Wajiz 406) Dalilnya adalah firman Allah yang artinya, “Dan bagi setiap umat Kami berikan tuntunan berqurban agar kalian mengingat nama Allah atas rezki yang dilimpahkan kepada kalian berupa hewan-hewan ternak (bahiimatul an’aam).” (QS. Al Hajj: 34) Syaikh Ibnu ‘Utsaimin mengatakan, “Bahkan jika seandainya ada orang yang berqurban dengan jenis hewan lain yang lebih mahal dari pada jenis ternak tersebut maka qurbannya tidak sah. Andaikan dia lebih memilih untuk berqurban seekor kuda seharga 10.000 real sedangkan seekor kambing harganya hanya 300 real maka qurbannya (dengan kuda) itu tidak sah…” (Syarhul Mumti’, III/409)

Seekor Kambing Untuk Satu Keluarga

Seekor kambing cukup untuk qurban satu keluarga, dan pahalanya mencakup seluruh anggota keluarga meskipun jumlahnya banyak atau bahkan yang sudah meninggal dunia. Sebagaimana hadits Abu Ayyub radhiyallahu’anhu yang mengatakan, “Pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seseorang (suami) menyembelih seekor kambing sebagai qurban bagi dirinya dan keluarganya.” (HR. Tirmidzi dan beliau menilainya shahih, lihat Minhaajul Muslim, 264 dan 266).

Oleh karena itu, tidak selayaknya seseorang mengkhususkan qurban untuk salah satu anggota keluarganya tertentu, misalnya kambing 1 untuk anak si A, kambing 2 untuk anak si B, karunia dan kemurahan Allah sangat luas maka tidak perlu dibatasi.

Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berqurban untuk seluruh dirinya dan seluruh umatnya. Suatu ketika beliau hendak menyembelih kambing qurban. Sebelum menyembelih beliau mengatakan:”Yaa Allah ini – qurban – dariku dan dari umatku yang tidak berqurban.” (HR. Abu Daud 2810 & Al Hakim 4/229 dan dishahihkan Syaikh Al Albani dalam Al Irwa’ 4/349). Berdasarkan hadis ini, Syaikh Ali bin Hasan Al Halaby mengatakan: “Kaum muslimin yang tidak mampu berqurban, mendapatkan pahala sebagaimana orang berqurban dari umat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Adapun yang dimaksud: “…kambing hanya boleh untuk satu orang, sapi untuk tujuh orang, dan onta 10 orang…” adalah biaya pengadaannya. Biaya pengadaan kambing hanya boleh dari satu orang, biaya pengadaan sapi hanya boleh dari maksimal tujuh orang dst.

Namun seandainya ada orang yang hendak membantu shohibul qurban yang kekurangan biaya untuk membeli hewan, maka diperbolehkan dan tidak mempengaruhi status qurbannya. Dan status bantuan di sini adalah hadiah bagi shohibul qurban. Apakah harus izin terlebih dahulu kepada pemilik hewan?

Jawab: Tidak harus, karena dalam transaksi hadiah tidak dipersyaratkan memberitahukan kepada orang yang diberi sedekah.

Ketentuan Untuk Sapi & Onta

Seekor Sapi dijadikan qurban untuk 7 orang. Sedangkan seekor onta untuk 10 orang. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu beliau mengatakan, “Dahulu kami penah bersafar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu tibalah hari raya Iedul Adha maka kami pun berserikat sepuluh orang untuk qurban seekor onta. Sedangkan untuk seekor sapi kami berserikat sebanyak tujuh orang.” (Shahih Sunan Ibnu Majah 2536, Al Wajiz, hal. 406)

Dalam masalah pahala, ketentuan qurban sapi sama dengan ketentuan qurban kambing. Artinya urunan 7 orang untuk qurban seekor sapi, pahalanya mencakup seluruh anggota keluarga dari 7 orang yang ikut urunan.

Arisan Qurban Kambing?

Mengadakan arisan dalam rangka berqurban masuk dalam pembahasan berhutang untuk qurban. Karena hakekat arisan adalah hutang. Sebagian ulama menganjurkan untuk berqurban meskipun harus hutang. Di antaranya adalah Imam Abu Hatim sebagaimana dinukil oleh Ibn Katsir dari Sufyan At Tsauri (Tafsir Ibn Katsir, surat Al Hajj:36)(*) Demikian pula Imam Ahmad dalam masalah aqiqah. Beliau menyarankan agar orang yang tidak memiliki biaya aqiqah agar berhutang dalam rangka menghidupkan sunnah aqiqah di hari ketujuh setelah kelahiran.

(*) Sufyan At Tsauri rahimahullah mengatakan: Dulu Abu Hatim pernah berhutang untuk membeli unta qurban. Beliau ditanya: “Kamu berhutang untuk beli unta qurban?” beliau jawab: “Saya mendengar Allah berfirman: لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ (kamu memperoleh kebaikan yang banyak pada unta-unta qurban tersebut) (QS: Al Hajj:36).” (lih. Tafsir Ibn Katsir, surat Al Hajj: 36).

Sebagian ulama lain menyarankan untuk mendahulukan pelunasan hutang dari pada berqurban. Di antaranya adalah Syaikh Ibn Utsaimin dan ulama tim fatwa islamweb.net di bawah pengawasan Dr. Abdullah Al Faqih (lih. Fatwa Syabakah Islamiyah no. 7198 & 28826). Syaikh Ibn Utsaimin mengatakan: “Jika orang punya hutang maka selayaknya mendahulukan pelunasan hutang dari pada berqurban.” (Syarhul Mumti’ 7/455). Bahkan Beliau pernah ditanya tentang hukum orang yang tidak jadi qurban karena uangnya diserahkan kepada temannya yang sedang terlilit hutang, dan beliau jawab: “Jika di hadapkan dua permasalahan antara berqurban atau melunaskan hutang orang faqir maka lebih utama melunasi hutang, lebih-lebih jika orang yang sedang terlilit hutang tersebut adalah kerabat dekat.” (lih. Majmu’ Fatawa & Risalah Ibn Utsaimin 18/144).

Namun pernyataan-pernyataan ulama di atas tidaklah saling bertentangan. Karena perbedaan ini didasari oleh perbedaan dalam memandang keadaan orang yang berhutang. Sikap ulama yang menyarankan untuk berhutang ketika qurban dipahami untuk kasus orang yang keadaanya mudah dalam melunasi hutang atau kasus hutang yang jatuh temponya masih panjang. Sedangkan anjuran sebagian ulama untuk mendahulukan pelunasan hutang dari pada qurban dipahami untuk kasus orang yang kesulitan melunasi hutang atau hutang yang menuntut segera dilunasi. Dengan demikian, jika arisan qurban kita golongkan sebagai hutang yang jatuh temponya panjang atau hutang yang mudah dilunasi maka berqurban dengan arisan adalah satu hal yang baik. Wallahu a’lam.

Qurban Kerbau?

Para ulama’ menyamakan kerbau dengan sapi dalam berbagai hukum dan keduanya disikapi sebagai satu jenis (Mausu’ah Fiqhiyah Quwaithiyah 2/2975). Ada beberapa ulama yang secara tegas membolehkan berqurban dengan kerbau, dari kalangan Syafi’iyah (lih. Hasyiyah Al Bajirami) maupun dari Hanafiyah (lih. Al ‘Inayah Syarh Hidayah 14/192 dan Fathul Qodir 22/106). Mereka menganggap keduanya satu jenis.

Syaikh Ibn Al Utasimin pernah ditanya tentang hukum qurban dengan kerbau.

Pertanyaan:

“Kerbau dan sapi memiliki perbedaan dalam banyak sifat sebagaimana kambing dengan domba. Namun Allah telah merinci penyebutan kambing dengan domba tetapi tidak merinci penyebutan kerbau dengan sapi, sebagaimana disebutkan dalam surat Al An’am 143. Apakah boleh berqurban dengan kerbau?”

Beliau menjawab:

“Jika hakekat kerbau termasuk sapi maka kerbau sebagaimana sapi namun jika tidak maka (jenis hewan) yang Allah sebut dalam alqur’an adalah jenis hewan yang dikenal orang arab, sedangkan kerbau tidak termasuk hewan yang dikenal orang arab.” (Liqa’ Babil Maftuh 200/27)

Jika pernyataan Syaikh Ibn Utsaimin kita bawa pada penjelasan ulama di atas maka bisa disimpulkan bahwa qurban kerbau hukumnya sah, karena kerbau sejenis dengan sapi. Wallahu a’lam.

Urunan Qurban Satu Sekolahan

Terdapat satu tradisi di lembaga pendidikan di daerah kita, ketika iedul adha tiba sebagian sekolahan menggalakkan kegiatan latihan qurban bagi siswa. Masing-masing siswa dibebani iuran sejumlah uang tertentu. Hasilnya digunakan untuk membeli kambing dan disembelih di hari-hari qurban. Apakah ini bisa dinilai sebagai ibadah qurban?

Perlu dipahami bahwa qurban adalah salah satu ibadah dalam islam yang memiliki aturan tertentu sebagaimana yang digariskan oleh syari’at. Keluar dari aturan ini maka tidak bisa dinilai sebagai ibadah qurban alias qurbannya tidak sah. Di antara aturan tersebut adalah masalah pembiayaan. Sebagaimana dipahami di muka, biaya pengadaan untuk seekor kambing hanya boleh diambilkan dari satu orang. Oleh karena itu kasus tradisi ‘qurban’ seperti di atas tidak dapat dinilai sebagai qurban.

Berqurban Atas Nama Orang yang Sudah Meninggal?

Berqurban untuk orang yang telah meninggal dunia dapat dirinci menjadi tiga bentuk:

  • Orang yang meninggal bukan sebagai sasaran qurban utama namun statusnya mengikuti qurban keluarganya yang masih hidup. Misalnya seseorang berqurban untuk dirinya dan keluarganya sementara ada di antara keluarganya yang telah meninggal. Berqurban jenis ini dibolehkan dan pahala qurbannya meliputi dirinya dan keluarganya meskipun ada yang sudah meninggal.
  • Berqurban khusus untuk orang yang telah meninggal tanpa ada wasiat dari mayit. Sebagian ulama madzhab hambali menganggap ini sebagai satu hal yang baik dan pahalanya bisa sampai kepada mayit, sebagaimana sedekah atas nama mayit (lih. Fatwa Majlis Ulama Saudi no. 1474 & 1765). Namun sebagian ulama’ bersikap keras dan menilai perbuatan ini sebagai satu bentuk bid’ah, mengingat tidak ada tuntunan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada riwayat bahwasanya beliau berqurban atas nama Khadijah, Hamzah, atau kerabat beliau lainnya yang mendahului beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  • Berqurban khusus untuk orang yang meninggal karena mayit pernah mewasiatkan agar keluarganya berqurban untuknya jika dia meninggal. Berqurban untuk mayit untuk kasus ini diperbolehkan jika dalam rangka menunaikan wasiat si mayit. (Dinukil dari catatan kaki Syarhul Mumti’ yang diambil dari Risalah Udl-hiyah Syaikh Ibn Utsaimin 51.

Umur Hewan Qurban

Untuk onta dan sapi: Jabir meriwayatkan Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Janganlah kalian menyembelih (qurban) kecuali musinnah. Kecuali apabila itu menyulitkan bagi kalian maka kalian boleh menyembelihdomba jadza’ah.” (Muttafaq ‘alaih)

Musinnah adalah hewan ternak yang sudah dewasa, dengan rincian:

No.

Hewan

Umur minimal

1.

Onta

5 tahun

2.

Sapi

2 tahun

3.

Kambing jawa

1 tahun

4.

Domba/ kambing gembel

6 bulan
(domba Jadza’ah)

(lihat Shahih Fiqih Sunnah, II/371-372, Syarhul Mumti’, III/410, Taudhihul Ahkaam, IV/461)

Cacat Hewan Qurban

Cacat hewan qurban dibagi menjadi 3:

Cacat yang menyebabkan tidak sah untuk berqurban, ada 4 (**):

  • Buta sebelah dan jelas sekali kebutaannya: Jika butanya belum jelas – orang yang melihatnya menilai belum buta – meskipun pada hakekatnya kambing tersebut satu matanya tidak berfungsi maka boleh diqurbankan. Demikian pula hewan yang rabun senja. ulama’ madzhab syafi’iyah menegaskan hewan yang rabun boleh digunakan untuk qurban karena bukan termasuk hewan yang buta sebelah matanya.
  • Sakit dan tampak sekali sakitnya.
  • Pincang dan tampak jelas pincangnya: Artinya pincang dan tidak bisa berjalan normal. Akan tetapi jika baru kelihatan pincang namun bisa berjalan dengan baik maka boleh dijadikan hewan qurban.
  • Sangat tua sampai-sampai tidak punya sumsum tulang.

Dan jika ada hewan yang cacatnya lebih parah dari 4 jenis cacat di atas maka lebih tidak boleh untuk digunakan berqurban. (lih. Shahih Fiqih Sunnah, II/373 & Syarhul Mumti’ 3/294).

Cacat yang menyebabkan makruh untuk berqurban, ada 2 (***):

  • Sebagian atau keseluruhan telinganya terpotong
  • Tanduknya pecah atau patah (lihat Shahih Fiqih Sunnah, II/373)

Cacat yang tidak berpengaruh pada hewan qurban (boleh dijadikan untuk qurban) namun kurang sempurna.

Selain 6 jenis cacat di atas atau cacat yang tidak lebih parah dari itu maka tidak berpengaruh pada status hewan qurban. Misalnya tidak bergigi (ompong), tidak berekor, bunting, atau tidak berhidung. Wallahu a’lam

(lihat Shahih Fiqih Sunnah, II/373)

(**) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang cacat hewan apa yang harus dihindari ketika berqurban. Beliau menjawab: “Ada empat cacat… dan beliau berisyarat dengan tangannya.” (HR. Ahmad 4/300 & Abu Daud 2802, dinyatakan Hasan-Shahih oleh Turmudzi). Sebagian ulama menjelaskan bahwa isyarat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tangannya ketika menyebutkan empat cacat tersebut menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membatasi jenis cacat yang terlarang. Sehingga yang bukan termasuk empat jenis cacat sebagaimana dalam hadis boleh digunakan sebagai qurban. (Syarhul Mumthi’ 7/464)

(***) Terdapat hadis yang menyatakan larangan berqurban dengan hewan yang memilki dua cacat, telinga terpotong atau tanduk pecah. Namun hadisnya dlo’if, sehingga sebagian ulama menggolongkan cacat jenis kedua ini hanya menyebabkan makruh dipakai untuk qurban. (Syarhul Mumthi’ 7/470)

Hewan yang Disukai dan Lebih Utama untuk Diqurbankan

Hendaknya hewan yang diqurbankan adalah hewan yang gemuk dan sempurna. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “…barangsiapa yang mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah maka sesungguhnya itu adalah berasal dari ketakwaan hati.” (QS. Al Hajj: 32). Berdasarkan ayat ini Imam Syafi’i rahimahullah menyatakan bahwa orang yang berqurban disunnahkan untuk memilih hewan qurban yang besar dan gemuk. Abu Umamah bin Sahl mengatakan, “Dahulu kami di Madinah biasa memilih hewan yang gemuk dalam berqurban. Dan memang kebiasaan kaum muslimin ketika itu adalah berqurban dengan hewan yang gemuk-gemuk.” (HR. Bukhari secara mu’allaq namun secara tegas dan dimaushulkan oleh Abu Nu’aim dalam Al Mustakhraj, sanadnya hasan)

Diantara ketiga jenis hewan qurban maka menurut mayoritas ulama yang paling utama adalah berqurban dengan onta, kemudian sapi kemudian kambing, jika biaya pengadaan masing-masing ditanggung satu orang (bukan urunan). Dalilnya adalah jawaban Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya oleh Abu Dzar radhiallahu ‘anhu tentang budak yang lebih utama. Beliau bersabda, “Yaitu budak yang lebih mahal dan lebih bernilai dalam pandangan pemiliknya” (HR. Bukhari dan Muslim). (lihat Shahih Fiqih Sunnah, II/374)

Manakah yang Lebih Baik, Ikut Urunan Sapi atau Qurban Satu Kambing?

Sebagian ulama menjelaskan qurban satu kambing lebih baik dari pada ikut urunan sapi atau onta, karena tujuh kambing manfaatnya lebih banyak dari pada seekor sapi (lih. Shahih Fiqh Sunnah, 2/375, Fatwa Lajnah Daimah no. 1149 & Syarhul Mumthi’ 7/458). Disamping itu, terdapat alasan lain diantaranya:

  • Qurban yang sering dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utuh satu ekor, baik kambing, sapi, maupun onta, bukan 1/7 sapi atau 1/10 onta.
  • Kegiatan menyembelihnya lebih banyak. Lebih-lebih jika hadis yang menyebutkan keutamaan qurban di atas statusnya shahih. Hal ini juga sesuai dengan apa yang dinyatakan oleh penulis kitab Al Muhadzab Al Fairuz Abadzi As Syafi’i. (lih. Al Muhadzab 1/74)
  • Terdapat sebagian ulama yang melarang urunan dalam berqurban, diantaranya adalah Mufti Negri Saudi Syaikh Muhammad bin Ibrahim (lih. Fatwa Lajnah 11/453). Namun pelarangan ini didasari dengan qiyas (analogi) yang bertolak belakang dengan dalil sunnah, sehingga jelas salahnya.

Apakah Harus Jantan?

Tidak ada ketentuan jenis kelamin hewan qurban. Boleh jantan maupun betina. Dari Umu Kurzin radliallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aqiqah untuk anal laki-laki dua kambing dan anak perempuan satu kambing. Tidak jadi masalah jantan maupun betina.” (HR. Ahmad 27900 & An Nasa’i 4218 dan dishahihkan Syaikh Al Albani). Berdasarkan hadis ini, Al Fairuz Abadzi As Syafi’i mengatakan: “Jika dibolehkan menggunakan hewan betina ketika aqiqah berdasarkan hadis ini, menunjukkan bahwa hal ini juga boleh untuk berqurban.” (Al Muhadzab 1/74)

Namun umumnya hewan jantan itu lebih baik dan lebih mahal dibandingkan hewan betina. Oleh karena itu, tidak harus hewan jantan namun diutamakan jantan.

Larangan Bagi yang Hendak Berqurban

Orang yang hendak berqurban dilarang memotong kuku dan memotong rambutnya (yaitu orang yang hendak qurban bukan hewan qurbannya). Dari Ummu Salamah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda, “Apabila engkau telah memasuki sepuluh hari pertama (bulan Dzulhijjah) sedangkan diantara kalian ingin berqurban maka janganlah dia menyentuh sedikitpun bagian dari rambut dan kulitnya.” (HR. Muslim). Larangan tersebut berlaku untuk cara apapun dan untuk bagian manapun, mencakup larangan mencukur gundul atau sebagian saja, atau sekedar mencabutinya. Baik rambut itu tumbuh di kepala, kumis, sekitar kemaluan maupun di ketiak (lihat Shahih Fiqih Sunnah, II/376).

Apakah larangan ini hanya berlaku untuk kepala keluarga ataukah berlaku juga untuk anggota keluarga shohibul qurban?

Jawab: Larangan ini hanya berlaku untuk kepala keluarga (shohibul qurban) dan tidak berlaku bagi anggota keluarganya. Karena 2 alasan:

  • Dlahir hadis menunjukkan bahwa larangan ini hanya berlaku untuk yang mau berqurban.
  • Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sering berqurban untuk dirinya dan keluarganya. Namun belum ditemukan riwayat bahwasanya beliau menyuruh anggota keluarganya untuk tidak memotong kuku maupun rambutnya. (Syarhul Mumti’ 7/529)

Waktu Penyembelihan

Waktu penyembelihan qurban adalah pada hari Iedul Adha dan 3 hari sesudahnya (hari tasyriq). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap hari taysriq adalah (hari) untuk menyembelih (qurban).” (HR. Ahmad dan Baihaqi) Tidak ada perbedaan waktu siang ataupun malam. Baik siang maupun malam sama-sama dibolehkan. Namun menurut Syaikh Al Utsaimin, melakukan penyembelihan di waktu siang itu lebih baik. (Tata Cara Qurban Tuntunan Nabi, hal. 33). Para ulama sepakat bahwa penyembelihan qurban tidak boleh dilakukan sebelum terbitnya fajar di hari Iedul Adha. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menyembelih sebelum shalat Ied maka sesungguhnya dia menyembelih untuk dirinya sendiri (bukan qurban). Dan barangsiapa yang menyembelih sesudah shalat itu maka qurbannya sempurna dan dia telah menepati sunnahnya kaum muslimin.” (HR. Bukhari dan Muslim) (lihat Shahih Fiqih Sunnah, II/377)

Tempat Penyembelihan

Tempat yang disunnahkan untuk menyembelih adalah tanah lapangan tempat shalat ‘ied diselenggarakan. Terutama bagi imam/penguasa/tokoh masyarakat, dianjurkan untuk menyembelih qurbannya di lapangan dalam rangka memberitahukan kepada kaum muslimin bahwa qurban sudah boleh dilakukan dan mengajari tata cara qurban yang baik. Ibnu ‘Umar mengatakan, “Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa menyembelih kambing dan onta (qurban) di lapangan tempat shalat.” (HR. Bukhari 5552).

Dan dibolehkan untuk menyembelih qurban di tempat manapun yang disukai, baik di rumah sendiri ataupun di tempat lain. (Lihat Shahih Fiqih Sunnah, II/378)

Penyembelih Qurban

Disunnahkan bagi shohibul qurban untuk menyembelih hewan qurbannya sendiri namun boleh diwakilkan kepada orang lain. Syaikh Ali bin Hasan mengatakan: “Saya tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat di kalangan ulama’ dalam masalah ini.” Hal ini berdasarkan hadits Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu di dalam Shahih Muslim yang menceritakan bahwa pada saat qurban Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyembelih beberapa onta qurbannya dengan tangan beliau sendiri kemudian sisanya diserahkan kepada Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu untuk disembelih. (lih. Ahkaamul Idain, 32)

Tata Cara Penyembelihan

  • Sebaiknya pemilik qurban menyembelih hewan qurbannya sendiri.
  • Apabila pemilik qurban tidak bisa menyembelih sendiri maka sebaiknya dia ikut datang menyaksikan penyembelihannya.
  • Hendaknya memakai alat yang tajam untuk menyembelih.
  • Hewan yang disembelih dibaringkan di atas lambung kirinya dan dihadapkan ke kiblat. Kemudian pisau ditekan kuat-kuat supaya cepat putus.
  • Ketika akan menyembelih disyari’akan membaca “Bismillaahi wallaahu akbar” ketika menyembelih. Untuk bacaan bismillah (tidak perlu ditambahi Ar Rahman dan Ar Rahiim) hukumnya wajib menurut Imam Abu Hanifah, Malik dan Ahmad, sedangkan menurut Imam Syafi’i hukumnya sunnah. Adapun bacaan takbir – Allahu akbar– para ulama sepakat kalau hukum membaca takbir ketika menyembelih ini adalah sunnah dan bukan wajib. Kemudian diikuti bacaan:
    • hadza minka wa laka.” (HR. Abu Dawud 2795) Atau
    • hadza minka wa laka ‘anni atau ‘an fulan (disebutkan nama shahibul qurban).” atau
    • Berdoa agar Allah menerima qurbannya dengan doa, “Allahumma taqabbal minni atau min fulan (disebutkan nama shahibul qurban)” (lih. Tata Cara Qurban Tuntunan Nabi, hal. 92)Catatan: Tidak terdapat do’a khusus yang panjang bagi shohibul qurban ketika hendak menyembelih. Wallahu a’lam.

Bolehkah Mengucapkan Shalawat Ketika Menyembelih?

Tidak boleh mengucapkan shalawat ketika hendak menyembelih, karena 2 alasan:

  • Tidak terdapat dalil bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan shalawat ketika menyembelih. Sementara beribadah tanpa dalil adalah perbuatan bid’ah.
  • Bisa jadi orang akan menjadikan nama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai wasilah ketika qurban. Atau bahkan bisa jadi seseorang membayangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menyembelih, sehingga sembelihannya tidak murni untuk Allah. (lih. Syarhul Mumti’ 7/492)

Pemanfaatan Hasil Sembelihan

Bagi pemilik hewan qurban dibolehkan memanfaatkan daging qurbannya, melalui:

  • Dimakan sendiri dan keluarganya, bahkan sebagian ulama menyatakan shohibul qurban wajib makan bagian hewan qurbannya. Termasuk dalam hal ini adalah berqurban karena nadzar menurut pendapat yang benar.
  • Disedekahkan kepada orang yang membutuhkan
  • Dihadiahkan kepada orang yang kaya
  • Disimpan untuk bahan makanan di lain hari. Namun penyimpanan ini hanya dibolehkan jika tidak terjadi musim paceklik atau krisis makanan.

Dari Salamah bin Al Akwa’ dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa diantara kalian yang berqurban maka jangan sampai dia menjumpai subuh hari ketiga sesudah Ied sedangkan dagingnya masih tersisa walaupun sedikit.” Ketika datang tahun berikutnya maka para sahabat mengatakan, “Wahai Rasulullah, apakah kami harus melakukan sebagaimana tahun lalu ?” Maka beliau menjawab, “(Adapun sekarang) Makanlah sebagian, sebagian lagi berikan kepada orang lain dan sebagian lagi simpanlah. Pada tahun lalu masyarakat sedang mengalami kesulitan (makanan) sehingga aku berkeinginan supaya kalian membantu mereka dalam hal itu.” (HR. Bukhari dan Muslim). Menurut mayoritas ulama perintah yang terdapat dalam hadits ini menunjukkan hukum sunnah, bukan wajib (lihat Shahih Fiqih Sunnah, II/378) Oleh sebab itu, boleh mensedekahkan semua hasil sembelihan qurban. Sebagaimana diperbolehkan untuk tidak menghadiahkannya (kepada orang kaya, ed.) sama sekali kepada orang lain (Minhaajul Muslim, 266). (artinya hanya untuk shohibul qurban dan sedekah pada orang miskin, ed.)

Bolehkah Memberikan Daging Qurban Kepada Orang Kafir?

Ulama madzhab Malikiyah berpendapat makruhnya memberikan daging qurban kepada orang kafir, sebagaimana kata Imam Malik: “(diberikan) kepada selain mereka (orang kafir) lebih aku sukai.” Sedangkan syafi’iyah berpendapat haramnya memberikan daging qurban kepada orang kafir untuk qurban yang wajib (misalnya qurban nadzar, pen.) dan makruh untuk qurban yang sunnah. (lih. Fatwa Syabakah Islamiyah no. 29843). Al Baijuri As Syafi’I mengatakan: “Dalam Al Majmu’ (Syarhul Muhadzab) disebutkan, boleh memberikan sebagian qurban sunnah kepada kafir dzimmi yang faqir. Tapi ketentuan ini tidak berlaku untuk qurban yang wajib.” (Hasyiyah Al Baijuri 2/310)

Lajnah Daimah (Majlis Ulama’ saudi Arabia) ditanya tentang bolehkah memberikan daging qurban kepada orang kafir.

Jawaban Lajnah:

“Kita dibolehkan memberi daging qurban kepada orang kafir Mu’ahid (****) baik karena statusnya sebagai orang miskin, kerabat, tetangga, atau karena dalam rangka menarik simpati mereka… namun tidak dibolehkan memberikan daging qurban kepada orang kafir Harby, karena kewajiban kita kepada kafir harby adalah merendahkan mereka dan melemahkan kekuatan mereka. Hukum ini juga berlaku untuk pemberian sedekah. Hal ini berdasarkan keumuman firman Allah:

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al Mumtahanah 8)

Demikian pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memerintahkan Asma’ binti Abu Bakr radhiallahu ‘anhu untuk menemui ibunya dengan membawa harta padahal ibunya masih musyrik.” (Fatwa Lajnah Daimah no. 1997).

Kesimpulannya, memberikan bagian hewan qurban kepada orang kafir dibolehkan karena status hewan qurban sama dengan sedekah atau hadiah, dan diperbolehkan memberikan sedekah maupun hadiah kepada orang kafir. Sedangkan pendapat yang melarang adalah pendapat yang tidak kuat karena tidak berdalil.

(****) Kafir Mu’ahid: Orang kafir yang mengikat perjanjian damai dengan kaum muslimin. Termasuk orang kafir mu’ahid adalah orang kafir yang masuk ke negeri islam dengan izin resmi dari pemerintah. Kafir Harby: Orang kafir yang memerangi kaum muslimin. Kafir Dzimmi: Orang kafir yang hidup di bawah kekuasaan kaum muslimin.

Larangan Memperjual-Belikan Hasil Sembelihan

Tidak diperbolehkan memperjual-belikan bagian hewan sembelihan, baik daging, kulit, kepala, teklek, bulu, tulang maupun bagian yang lainnya. Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan aku untuk mengurusi penyembelihan onta qurbannya. Beliau juga memerintahkan saya untuk membagikan semua kulit tubuh serta kulit punggungnya. Dan saya tidak diperbolehkan memberikan bagian apapun darinya kepada tukang jagal.” (HR. Bukhari dan Muslim). Bahkan terdapat ancaman keras dalam masalah ini, sebagaimana hadis berikut:

من باع جلد أضحيته فلا أضحية له

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang menjual kulit hewan qurbannya maka ibadah qurbannya tidak ada nilainya.” (HR. Al Hakim 2/390 & Al Baihaqi. Syaikh Al Albani mengatakan: Hasan)

Tetang haramnya pemilik hewan menjual kulit qurban merupakan pendapat mayoritas ulama, meskipun Imam Abu Hanifah menyelisihi mereka. Namun mengingat dalil yang sangat tegas dan jelas maka pendapat siapapun harus disingkirkan.

Catatan:

  • Termasuk memperjual-belikan bagian hewan qurban adalah menukar kulit atau kepala dengan daging atau menjual kulit untuk kemudian dibelikan kambing. Karena hakekat jual-beli adalah tukar-menukar meskipun dengan selain uang.
  • Transaksi jual-beli kulit hewan qurban yang belum dibagikan adalah transaksi yang tidak sah. Artinya penjual tidak boleh menerima uang hasil penjualan kulit dan pembeli tidak berhak menerima kulit yang dia beli. Hal ini sebagaimana perkataan Al Baijuri: “Tidak sah jual beli (bagian dari hewan qurban) disamping transaksi ini adalah haram.” Beliau juga mengatakan: “Jual beli kulit hewan qurban juga tidak sah karena hadis yang diriwayatkan Hakim (baca: hadis di atas).” (Fiqh Syafi’i 2/311).
  • Bagi orang yang menerima kulit dibolehkan memanfaatkan kulit sesuai keinginannya, baik dijual maupun untuk pemanfaatan lainnya, karena ini sudah menjadi haknya. Sedangkan menjual kulit yang dilarang adalah menjual kulit sebelum dibagikan (disedekahkan), baik yang dilakukan panitia maupun shohibul qurban.

Larangan Mengupah Jagal Dengan Bagian Hewan Sembelihan

Dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu bahwa “Beliau pernah diperintahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengurusi penyembelihan ontanya dan agar membagikan seluruh bagian dari sembelihan onta tersebut, baik yang berupa daging, kulit tubuh maupun pelana. Dan dia tidak boleh memberikannya kepada jagal barang sedikitpun.” (HR. Bukhari dan Muslim) dan dalam lafaz lainnya beliau berkata, “Kami mengupahnya dari uang kami pribadi.” (HR. Muslim). Danini merupakan pendapat mayoritas ulama (lihat Shahih Fiqih Sunnah, II/379)

Syaikh Abdullah Al Bassaam mengatakan, “Tukang jagal tidak boleh diberi daging atau kulitnya sebagai bentuk upah atas pekerjaannya. Hal ini berdasarkan kesepakatan para ulama. Yang diperbolehkan adalah memberikannya sebagai bentuk hadiah jika dia termasuk orang kaya atau sebagai sedekah jika ternyata dia adalah miskin…..” (Taudhihul Ahkaam, IV/464). Pernyataan beliau semakna dengan pernyataan Ibn Qosim yang mengatakan: “Haram menjadikan bagian hewan qurban sebagai upah bagi jagal.” Perkataan beliau ini dikomentari oleh Al Baijuri: “Karena hal itu (mengupah jagal) semakna dengan jual beli. Namun jika jagal diberi bagian dari qurban dengan status sedekah bukan upah maka tidak haram.” (Hasyiyah Al Baijuri As Syafi’i 2/311).

Adapun bagi orang yang memperoleh hadiah atau sedekah daging qurban diperbolehkan memanfaatkannya sekehendaknya, bisa dimakan, dijual atau yang lainnya. Akan tetapi tidak diperkenankan menjualnya kembali kepada orang yang memberi hadiah atau sedekah kepadanya (Tata Cara Qurban Tuntunan Nabi, 69)

Menyembelih Satu Kambing Untuk Makan-Makan Panitia? Atau Panitia Dapat Jatah Khusus?

Status panitia maupun jagal dalam pengurusan hewan qurban adalah sebagai wakil dari shohibul qurban dan bukan amil (*****). Karena statusnya hanya sebagai wakil maka panitia qurban tidak diperkenankan mengambil bagian dari hewan qurban sebagai ganti dari jasa dalam mengurusi hewan qurban. Untuk lebih memudahkan bisa diperhatikan ilustrasi kasus berikut:

Adi ingin mengirim uang Rp 1 juta kepada Budi. Karena tidak bisa ketemu langsung maka Adi mengutus Rudi untuk mengantarkan uang tersebut kepada Budi. Karena harus ada biaya transport dan biaya lainnya maka Adi memberikan sejumlah uang kepada Rudi. Bolehkah uang ini diambilkan dari uang Rp 1 juta yang akan dikirimkan kepada Budi?? Semua orang akan menjawab: “TIDAK BOLEH KARENA BERARTI MENGURANGI UANGNYA BUDI.”

Status Rudi pada kasus di atas hanyalah sebagai wakil Adi. Demikian pula qurban. Status panitia hanya sebagai wakil pemilik hewan, sehingga dia tidak boleh mengambil bagian qurban sebagai ganti dari jasanya. Oleh karena itu, jika menyembelih satu kambing untuk makan-makan panitia, atau panitia dapat jatah khusus sebagai ganti jasa dari kerja yang dilakukan panitia maka ini tidak diperbolehkan.

(*****) Sebagian orang menyamakan status panitia qurban sebagaimana status amil dalam zakat. Bahkan mereka meyebut panitia qurban dengan ‘amil qurban’. Akibatnya mereka beranggapan panitia memiliki jatah khusus dari hewan qurban sebagaimana amil zakat memiliki jatah khusus dari harta zakat. Yang benar, amil zakat tidaklah sama dengan panitia pengurus qurban. Karena untuk bisa disebut amil, harus memenuhi beberapa persyaratan. Sementara pengurus qurban hanya sebatas wakil dari shohibul qurban, sebagaimana status sahabat Ali radhiallahu ‘anhu dalam mengurusi qurban Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan tidak ada riwayat Ali radhiallahu ‘anhu mendapat jatah khusus dari qurbannya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Nasehat & Solusi Untuk Masalah Kulit

Satu penyakit kronis yang menimpa ibadah qurban kaum muslimin bangsa kita, mereka tidak bisa lepas dari ‘fiqh praktis’ menjual kulit atau menggaji jagal dengan kulit. Memang kita akui ini adalah jalan pintas yang paling cepat untuk melepaskan diri dari tanggungan mengurusi kulit. Namun apakah jalan pintas cepat ini menjamin keselamatan??? Bertaqwalah kepada Allah wahai kaum muslimin… sesungguhnya ibadah qurban telah diatur dengan indah dan rapi oleh Sang Peletak Syari’ah. Jangan coba-coba untuk keluar dari aturan ini karena bisa jadi qurban kita tidak sah. Berusahalah untuk senantiasa berjalan sesuai syari’at meskipun jalurnya ‘kelihatannya’ lebih panjang dan sedikit menyibukkan. Jangan pula terkecoh dengan pendapat sebagian orang, baik ulama maupun yang ngaku-ngaku ulama, karena orang yang berhak untuk ditaati secara mutlak hanya satu yaitu Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka semua pendapat yang bertentangan dengan hadis beliau harus dibuang jauh-jauh.

Tidak perlu bingung dan merasa repot. Bukankah Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu pernah mengurusi qurbannya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang jumlahnya 100 ekor onta?! Tapi tidak ada dalam catatan sejarah Ali bin Abi thalib radhiallahu ‘anhu bingung ngurusi kulit dan kepala. Demikianlah kemudahan yang Allah berikan bagi orang yang 100% mengikuti aturan syari’at. Namun bagi mereka (baca: panitia) yang masih merasa bingung ngurusi kulit, bisa dilakukan beberapa solusi berikut:

  • Kumpulkan semua kulit, kepala, dan kaki hewan qurban. Tunjuk sejumlah orang miskin sebagai sasaran penerima kulit. Tidak perlu diantar ke rumahnya, tapi cukup hubungi mereka dan sampaikan bahwa panitia siap menjualkan kulit yang sudah menjadi hak mereka. Dengan demikian, status panitia dalam hal ini adalah sebagai wakil bagi pemilik kulit untuk menjualkan kulit, bukan wakil dari shohibul qurban dalam menjual kulit.
  • Serahkan semua atau sebagian kulit kepada yayasan islam sosial (misalnya panti asuhan atau pondok pesantren). (Terdapat Fatwa Lajnah yang membolehkan menyerahkan bagian hewan qurban kepada yayasan).

Mengirim sejumlah uang untuk dibelikan hewan qurban di tempat tujuan (di luar daerah pemilik hewan) dan disembelih di tempat tersebut? atau mengirimkan hewan hidup ke tempat lain untuk di sembelih di sana?

Pada asalnya tempat menyembelih qurban adalah daerah orang yang berqurban. Karena orang-orang yang miskin di daerahnya itulah yang lebih berhak untuk disantuni. Sebagian syafi’iyah mengharamkan mengirim hewan qurban atau uang untuk membeli hewan qurban ke tempat lain – di luar tempat tinggal shohibul qurban – selama tidak ada maslahat yang menuntut hal itu, seperti penduduk tempat shohibul qurban yang sudah kaya sementara penduduk tempat lain sangat membutuhkan. Sebagian ulama membolehkan secara mutlak (meskipun tidak ada tuntutan maslahat). Sebagai jalan keluar dari perbedaan pendapat, sebagian ulama menasehatkan agar tidak mengirim hewan qurban ke selain tempat tinggalnya. Artinya tetap disembelih di daerah shohibul qurban dan yang dikirim keluar adalah dagingnya. (lih. Fatwa Syabakah Islamiyah no. 2997, 29048, dan 29843 & Shahih Fiqih Sunnah, II/380

Kesimpulannya, berqurban dengan model seperti ini (mengirim hewan atau uang dan bukan daging) termasuk qurban yang sah namun menyelisihi sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena tiga hal:

  • Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat radiallahu ‘anhum tidak pernah mengajarkannya
  • Hilangnya sunnah anjuran untuk disembelih sendiri oleh shohibul qurban
  • Hilangnya sunnah anjuran untuk makan bagian dari hewan qurban.

Wallaahu waliyut taufiq.

Bagi para pembaca yang ingin membaca penjelasan yang lebih lengkap dan memuaskan silakan baca buku Tata Cara Qurban Tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diterjemahkan Ustadz Aris Munandar hafizhahullah dari Talkhish Kitab Ahkaam Udh-hiyah wadz Dzakaah karya Syaikh Al Utsaimin rahimahullah, penerbit Media Hidayah. Semoga risalah yang ringkas sebagai pelengkap untuk tulisan saudaraku Abu Muslih hafizhahullah ini bermanfaat dan menjadi amal yang diterima oleh Allah ta’ala, sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta seluruh pengikut beliau yang setia. Alhamdulillaahi Rabbil ‘aalamiin.

Yogyakarta, 1 Dzul hijjah 1428

Keutamaan Tanggal 1 Sampai 10 Dzul Hijjah

Dari Ibn Abbas radhiallahu ‘anhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ما من أيّام العمل الصّالح فيها أحبّ إلى اللّه من هذه الأيّام – يعني أيّام العشر – قالوا : يا رسول اللّه ولا الجهاد في سبيل اللّه ؟ قال : ولا الجهاد في سبيل اللّه ، إلاّ رجل خرج بنفسه وماله ، فلم يرجع من ذلك بشيء.

Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan selama 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah.” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidak pula jihad, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.” (HR. Abu Daud & dishahihkan Syaikh Al Albani)

Berdasarkan hadis tersebut, ulama’ sepakat dianjurkannya berpuasa selama 8 hari pertama bulan Dzul hijjah. Dan lebih ditekankan lagi pada tanggal 9 Dzul Hijjah (Hari ‘Arafah)

Diceritakan oleh Al Mundziri dalam At Targhib (2/150) bahwa Sa’id bin Jubair (Murid terbaik Ibn Abbas) ketika memasuki tanggal satu Dzul Hijjah, beliau sangat bersungguh-sungguh dalam beribadah sampai hampir tidak bisa mampu melakukannya.

Bagaimana dengan Puasa Hari Tarwiyah (8 Dzul Hijjah) Secara Khusus?

Terdapat hadis yang menyatakan: “Orang yang berpuasa pada hari tarwiyah maka baginya pahala puasa satu tahun.” Namun hadis ini hadits palsu sebagaimana ditegaskan oleh Ibnul Zauzy (Al Maudhu’at 2/198), As Suyuthi (Al Masnu’ 2/107), As Syaukani (Al Fawaidul Majmu’ah).

Oleh karena itu, tidak perlu berniat khusus untuk berpuasa pada tanggal 8 Dzul Hijjah karena hadisnya dhaif. Namun jika berpuasa karena mengamalkan keumuman hadis shahih di atas maka diperbolehkan. (disarikan dari Fatwa Yas-aluunaka, Syaikh Hissamuddin ‘Affaanah). Wallaahu a’lam.

 

Dari artikel Fiqih Qurban — Muslim.Or.Id by null

 

Hakikat Tasawuf (1)

Kategori: Aqidah

90 Komentar // 23 Oktober 2008

Pendahuluan

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله وآله وصحبه أجمعين، أما بعد

Istilah “sufi” atau “tasawuf” tentu sangat dikenal di kalangan kita, terlebih lagi di kalangan masyarakat awam, istilah ini sangat diagungkan dan selalu diidentikkan dengan kewalian, kezuhudan dan kesucian jiwa. Bahkan mayoritas orang awam beranggapan bahwa seseorang tidak akan bisa mencapai hakikat takwa tanpa melalui jalan tasawuf. Opini ini diperkuat dengan melihat penampilan lahir yang selalu ditampakkan oleh orang-orang yang mengaku sebagai ahli tasawuf, berupa pakaian lusuh dan usang, biji-bijian tasbih yang selalu di tangan dan bibir yang selalu bergerak melafazkan zikir, yang semua ini semakin menambah keyakinan orang-orang awam bahwasanya merekalah orang-orang yang benar-benar telah mencapai derajat wali (kekasih) Allah ta’ala

 

Sebelum kami membahas tentang hakikat tasawuf yang sebenarnya, kami ingin mengingatkan kembali bahwa penilaian benar atau tidaknya suatu pemahaman bukan cuma dilihat dari pengakuan lisan atau penampilan lahir semata, akan tetapi yang menjadi barometer adalah sesuai tidaknya pemahaman tersebut dengan Al Quran dan As Sunnah menurut apa yang dipahami salafush shalih. Sebagai bukti akan hal ini kisah khawarij, kelompok yang pertama menyempal dalam islam yang diperangi oleh para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di bawah pimpinan Ali Bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berdasarkan perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal kalau kita melihat pengakuan lisan dan penampilan lahir kelompok khawarij ini maka tidak akan ada seorang pun yang menduga bahwa mereka menyembunyikan penyimpangan dan kesesatan yang besar dalam batin mereka, sebagaimana yang digambarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau menjelaskan ciri-ciri kelompok khawarij ini, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“…Mereka (orang-orang khawarij) selalu mengucapkan (secara lahir) kata-kata yang baik dan indah, dan mereka selalu membaca Al Quran tapi (bacaan tersebut) tidak melampaui tenggorokan mereka (tidak masuk ke dalam hati mereka)…” (HSR Imam Muslim 7/175, Syarh An Nawawi, cet. Darul Qalam, dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu).

Dan dalam riwayat yang lain beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “… Bacaan Al Quran kalian (wahai para sahabatku) tidak ada artinya jika dibandingkan dengan bacaan Al Quran mereka, (demikian pula) shalat kalian tidak ada artinya jika dibandingkan dengan shalat mereka, (demikian pula) puasa kalian tidak ada artinya jika dibandingkan dengan puasa mereka (HSR Imam Muslim 7/175, Syarh An Nawawi, cet. Darul Qalam, dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu)

Maka pada hadits yang pertama Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang ciri-ciri mereka yang selalu mengucapkan kata-kata yang baik dan indah tapi cuma di mulut saja dan tidak masuk ke dalam hati mereka, dan pada hadits yang ke dua Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan tentang penampilan lahir mereka yang selalu mereka tampakkan untuk memperdaya manusia, yaitu kesungguhan dalam beribadah yang bahkan sampai kelihatannya melebihi kesungguhan para Sahabat radhiyallahu ‘anhum dalam beribadah (karena memang para Sahabat radhiyallahu ‘anhum berusaha keras untuk menyembunyikan ibadah mereka karena takut tertimpa riya)

Yang kemudian prinsip ini diterapkan dengan benar oleh Ali Bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, sahabat yang meriwayatkan hadits di atas, tatkala kelompok khawarij keluar untuk memberontak dengan satu slogan yang mereka elu-elukan: “Tidak ada hukum selain hukum Allah ‘azza wa jalla“. Maka Ali Bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menanggapi slogan tersebut dengan ucapan beliau radhiyallahu ‘anhu yang sangat masyhur -yang seharusnya kita jadikan sebagai pedoman dalam menilai suatu pemahaman- yaitu ucapan beliau radhiyallahu ‘anhu: “(slogan mereka itu ) adalah kalimat (yang nampaknya) benar tetapi dimaksudkan untuk kebatilan.”

Semoga Allah ‘azza wa jalla Merahmati Imam Abu Muhammad Al Barbahari yang mengikrarkan prinsip ini dalam kitabnya Syarhus Sunnah dengan ucapan beliau: “Perhatikan dan cermatilah -semoga Allah ‘azza wa jalla merahmatimu- semua orang yang menyampaikan satu ucapan/pemahaman di hadapanmu, maka jangan sekali-kali kamu terburu-buru untuk membenarkan dan mengikuti ucapan/pemahaman tersebut, sampai kamu tanyakan dan meneliti kembali: Apakah ucapan/pemahaman tersebut pernah disampaikan oleh para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamradhiyallahu ‘anhu atau pernah disampaikan oleh ulama Ahlussunnah? Kalau kamu dapati ucapan/pemahaman tersebut sesuai dengan pemahaman mereka radhiyallahu ‘anhum berpegang teguhlah kamu dengan ucapan/pemahaman tersebut, dan janganlah (sekali-kali) kamu meninggalkannya dan memilih pemahaman lain, sehingga (akibatnya) kamu akan terjerumus ke dalam neraka!” (Syarhus Sunnah, tulisan Imam Al Barbahari hal.61, tahqiq Syaikh Khalid Ar Radadi). Setelah prinsip di atas jelas, sekarang kami akan membahas tentang hakikat tasawuf, agar kita bisa melihat dan menilai dengan jelas benar atau tidaknya ajaran tasawuf ini.

Definisi Tasawuf/Sufi

Kata “Shufi” berasal dari bahasa Yunani “Shufiya” yang artinya: hikmah. Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa kata ini merupakan penisbatan kepada pakaian dari kain “Shuf” (kain wol) dan pendapat ini lebih sesuai karena pakaian wol di zaman dulu selalu diidentikkan dengan sifat zuhud, Ada juga yang mengatakan bahwa memakai pakaian wol dimaksudkan untuk bertasyabbuh (menyerupai) Nabi ‘Isa Al Masih ‘alaihi sallam (Lihat kitab kecil “Haqiqat Ash Shufiyyah Fii Dhau’il Kitab was Sunnah” (hal. 13), tulisan Syaikh DR. Muhammad bin Rabi’ Al Madkhali).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Ada perbedaan pendapat dalam penisbatan kata “Shufi”, karena kata ini termasuk nama yang menunjukkan penisbatan, seperti kata “Al Qurasyi” (yang artinya: penisbatan kepada suku Quraisy), dan kata “Al Madani” (artinya: penisbatan kepada kota Madinah) dan yang semisalnya. Ada yang mengatakan: “Shufi” adalah nisbat kepada Ahlush Shuffah (Ash Shuffah adalah semacam teras yang bersambung dengan mesjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang dulu dijadikan tempat tinggal sementara oleh beberapa orang sahabat Muhajirin radhiyallahu ‘anhum yang miskin, karena mereka tidak memiliki harta, tempat tinggal dan keluarga di Madinah, maka Rasullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan mereka tinggal sementara di teras tersebut sampai mereka memiliki tempat tinggal tetap dan peng- hidupan yang cukup. Lihat kitab Taqdis Al Asykhash tulisan Syaikh Muhammad Ahmad Lauh 1/34, -pen), tapi pendapat ini (jelas) salah, karena kalau benar demikian maka mestinya pengucapannya adalah: “Shuffi” (dengan huruf “fa’ “yang didobel). Ada juga yang mengatakan nisbat kepada “Ash Shaff” (barisan) yang terdepan di hadapan Allah ‘azza wa jalla, pendapat ini pun salah, karena kalau benar demikian maka mestinya pengucapannya adalah “Shaffi” (dengan harakat fathah pada huruf “shad” dan huruf “fa’ ” yang didobel. Ada juga yang mengatakan nisbat kepada “Ash Shafwah” (orang-orang terpilih) dari semua makhluk Allah ‘azza wa jalla, dan pendapat ini pun salah karena kalau benar demikian maka mestinya pengucapannya adalah: “Shafawi”. Ada juga yang mengatakan nisbat kepada (seorang yang bernama) Shufah bin Bisyr bin Udd bin Bisyr bin Thabikhah, satu suku dari bangsa Arab yang di zaman dulu (zaman jahiliah) pernah bertempat tinggal di dekat Ka’bah di Mekkah, yang kemudian orang-orang yang ahli nusuk (ibadah) setelah mereka dinisbatkan kepada mereka, pendapat ini juga lemah meskipun lafazhnya sesuai jika ditinjau dari segi penisbatan, karena suku ini tidak populer dan tidak dikenal oleh kebanyakan orang-orang ahli ibadah, dan kalau seandainya orang-orang ahli ibadah dinisbatkan kepada mereka maka mestinya penisbatan ini lebih utama di zaman para sahabat, para tabi’in dan tabi’ut tabi’in, dan juga karena mayoritas orang-orang yang berbicara atas nama shufi tidak mengenal qabilah (suku) ini dan tidak ridha dirinya dinisbatkan kepada suatu suku yang ada di zaman jahiliyah yang tidak ada eksistensinya dalam islam. Ada juga yang mengatakan -dan pendapat inilah yang lebih dikenal- nisbat kepada “Ash Shuf” (kain wol)(Majmu’ul Fatawa, 11/5-6).

Lahirnya Ajaran Tasawuf

Tasawuf adalah istilah yang sama sekali tidak dikenal di zaman para sahabat radhiyallahu ‘anhum bahkan tidak dikenal di zaman tiga generasi yang utama (generasi sahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in). Ajaran ini baru muncul sesudah zaman tiga generasi ini. (Lihat Haqiqat Ash Shufiyyah hal. 14).

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, “Adapun lafazh “Shufiyyah”, lafazh ini tidak dikenal di kalangan tiga generasi yang utama. Lafazh ini baru dikenal dan dibicarakan setelah tiga generasi tersebut, dan telah dinukil dari beberapa orang imam dan syaikh yang membicarakan lafazh ini, seperti Imam Ahmad bin Hambal, Abu Sulaiman Ad Darani dan yang lainnya, dan juga diriwayatkan dari Sufyan Ats Tsauri bahwasanya beliau membicarakan lafazh ini, dan ada juga yang meriwayatkan dariHasan Al Bashri” (Majmu’ Al Fatawa 11/5).

Kemudian Ibnu Taimiyyah menjelaskan bahwasanya ajaran ini pertama kali muncul di kota Bashrah, Iraq, yang dimulai dengan timbulnya sikap berlebih-lebihan dalam zuhud dan ibadah yang tidak terdapat di kota-kota (islam) lainnya (Majmu’ Al Fatawa, 11/6).

Berkata Imam Ibnu Al Jauzi: “Tasawuf adalah suatu aliran yang lahirnya diawali dengan sifat zuhud secara keseluruhan, kemudian orang-orang yang menisbatkan diri kepada aliran ini mulai mencari kelonggaran dengan mendengarkan nyanyian dan melakukan tari-tarian, sehingga orang-orang awam yang cenderung kepada akhirat tertarik kepada mereka karena mereka menampakkan sifat zuhud, dan orang-orang yang cinta dunia pun tertarik kepada mereka karena melihat gaya hidup yang suka bersenang-senang dan bermain pada diri mereka. (Talbis Iblis hal 161).

Dan berkata DR. Shabir Tha’imah dalam kitabnya Ash Shufiyyah Mu’taqadan Wa Maslakan (hal. 17) “Dan jelas sekali besarnya pengaruh gaya hidup kependetaan Nasrani -yang mereka selalu memakai pakaian wol ketika mereka berada di dalam biara-biara- pada orang-orang yang memusatkan diri pada kegiatan ajaran tasawuf ini di seluruh penjuru dunia, padahal Islam telah membebaskan dunia ini dengan tauhid, yang mana gaya hidup ini dan lainnya memberikan suatu pengaruh yang sangat jelas pada tingkah laku para pendahulu ahli tasawuf.” (Dinukil oleh Syaikh Shalih Al Fauzan dalam kitabnya Haqiqat At Tasawwuf, hal. 13).

Dan berkata Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir dalam kitab beliau At Tashawuf, Al Mansya’ wa Al Mashdar hal. 28 “Ketika kita mengamati lebih dalam ajaran-ajaran tasawuf yang dulu maupun yang sekarang dan ucapan-ucapan mereka, yang dinukil dan diriwayatkan dalam kitab-kitab tasawuf yang dulu maupun sekarang, kita akan melihat suatu perbedaan yang sangat jelas antara ajaran tersebut dengan ajaran Al Quran dan As Sunnah. Dan sama sekali tidak pernah kita dapati bibit dan cikal bakal ajaran tasawuf ini dalam perjalanan sejarah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau radhiyallahu ‘anhum yang mulia, orang-orang yang terbaik dan pilihan dari hamba-hamba Allah ‘azza wa jalla, bahkan justru sebaliknya kita dapati ajaran tasawuf ini diambil dan dipungut dari kependetaan model Nasrani, dari kebrahmanaan model agama Hindu, peribadatan model Yahudi dan kezuhudan model agama Budha” (Dinukil oleh Syaikh Shalih Al Fauzan dalam kitabnya “Haqiqat At Tashawuf” hal. 14).

Dari keterangan yang kami nukilkan di atas, jelaslah bahwa tasawuf adalah ajaran yang menyusup ke dalam Islam, hal ini terlihat jelas pada amalan-amalan yang dilakukan oleh orang-orang ahli tasawuf, amalan-amalan asing dan jauh dari petunjuk islam. Dan yang kami maksudkan di sini adalah orang-orang ahli tasawuf zaman sekarang, yang banyak melakukan kesesatan dan kebohongan dalam agama, adapun ahli tasawuf yang terdahulu keadaan mereka masih lumayan, seperti Fudhail bin ‘Iyadh, Al Junaid, Ibrahim bin Adham dan lain-lain. (Lihat kitab Haqiqat At Tashawwuf tulisan Syaikh Shalih Al Fauzan hal. 15)

-bersambung insya Allah-

 

Dari artikel Hakikat Tasawuf (1) — Muslim.Or.Id by null

Firqah-firqah dalam islam

Januari 31, 2011 Tinggalkan Komentar Go to comments

Dalam sejarah islam telah tercatat adanya firqah-firqah di kalangan umat islam yang antara satu dan yang lainnya saling berbeda faham dan sulit dikompromikan. Hal ini, memang pernah diprediksikan oleh Rosulullah Saw. Beliau pernah menggambarkan akan timbulnya firqah-firqah di kalangan umat islam.
Banyak hadits-hadits Rasulullah Saw yang menjelaskan tentang adanya perpecahan atau firqah-firqah ini. Dari hadits-hadits tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Sesudah Nabi Muhammad saw wafat, akan timbul kelompok umat islam yang saling berselisih faham yang jumlahnya tidak kurang dari 73 golongan.
2. Di antara sekian banyaknya firqah (golongan) itu terdapat golongan yang disebut sebagai “Majusinya umat islam”, yaitu golongan yang mengingkari takdir. Bahkan, lebih tegas lagi dinyatakan bahwa dari sekian banyaknya golongan itu ada yang tidak lagi termasuk golongan umat islam, yaitu Murji’ah dan Qodariyah.
3. di antara golongan yang banyak itu ada yang benar, yaitu golongan Ahlussunnah Wal Jamaah, yaitu golongan yang selalu berpegang kepada sunnah Nabi dan sunnah Khulafaur Rasyidin.
Di dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin karangan mufti syekh sayyid abdurrahman bin muhammad bin husen bin umar ba ‘Alawi, disebutkan bahwa ada tujuh firqah (golongan) yang tidak termasuk Ahlussunnah Wal Jamaah, sekaligus rincian dari 73 golongan tersebut, di antaranya seperti di dalam bagan di bawah ini :
No Golongan Karakteristik Sempalan Keterangan
1 Syi’ah yang berlebihan memuja sayyidina ali karramallahu wajhahu serta membenci para sahabat Rasullullah yang lain. Golongan ini terpecah menjadi : 22 Aliran
2 Khawarij Yang berlebihan membenci Sayyidina Ali K.W. bahkan di antara mereka ada yang mengkafirkannya. 20 Aliran
3 Mu’tazilah Yang berlebihan menggunakan akal (rasio) dan banyak meninggalkan dalil naqli (Al-Qur’an dan Hadits). 20 Aliran
4 Najariyah Yang mengingkari sifat-sifat than. 3 Aliran
5 Jabariyah Yang berpendapat bahwa manusia itu majbur / tidak berdaya sama sekali. 1 Aliran
6 Murji’ah Yang sangat murah memberikan pengertian atau batasan mengenai imam. Mereka memfatwakan bahwa kemaksiatan tidak akan memberikan mudlarrat terhadap seseorang yang telah menyatakan beriman. 5 aliran
7 Musyabbihah Yang menyerupakan tuhan dengan manusia. 1 Aliran

Dengan memperhatikan ketujuh golongan tersebut di atas, beserta aliran-aliran sempalannya, maka jelaslah bahwa ada 72 aliran di luar golongan Ahlussunnah Wal Jamaah. Apabila ditambah dengan satu aliran lagi, yaitu faham Ahlussunnah Wal Jamaah, maka jumlah seluruh firqah dan aliran dalam islam sebanyak 73 golongan sebagaimana pernah diprediksikan dan digambarkan oleh Rasulullah Saw. Selain itu masih ada aliran-aliran baru yang masih dipertanyakan kislamannya, seperti Ahmadiyah, Salafiyah yang selanjutnya membaku menjadi gerakan wahabiyah.